Benarkah Tahlilan Bukan Ajaran Islam? Sejarahnya Terungkap!

Sejarah tahlilan
Sejarah tahlilan. Image: ANTARA
0 Komentar

Karena pendekatan yang moderat ini, jumlah pengikut aliran Tuban jauh lebih banyak dibandingkan dengan aliran lain yang dianggap radikal. Namun, aliran ini juga menuai kritik. Sebagian pihak menilai aliran Tuban mencampuradukkan syariat Islam dengan ajaran agama lain. Oleh sebab itu, aliran ini kerap dicap sebagai Islam Abangan.

Dalam praktiknya, beberapa adat lama yang diadopsi aliran ini memiliki kemiripan dengan ajaran Hindu yang terdapat dalam Kitab Brahmana, sebuah kitab yang mengatur tata cara pelaksanaan kurban, sajian persembahan kepada dewa-dewa, serta upacara penghormatan kepada roh nenek moyang. Dalam ajaran ini terdapat aturan tentang yajña (korban suci) yang terbagi menjadi mahāyajña (besar) dan kṣudrayajña (kecil).

Salah satu tradisi yang paling sulit ditinggalkan masyarakat Jawa yang baru masuk Islam adalah upacara pindha pitra, yaitu upacara penghormatan kepada roh orang yang sudah meninggal. Dalam kepercayaan ini, roh setelah mati diyakini akan menjelma kembali sesuai amal perbuatannya, bisa menjadi dewa, manusia, binatang, bahkan menjelma sebagai batu atau tumbuhan.

Baca Juga:JX Capital Scam? Modus Investasi Bodong Mirip EV Global5 Rekomendasi Raket Padel Terbaik 2025 untuk Pemula

Keyakinan ini juga menganggap bahwa roh masih berada di sekitar rumah keluarga selama 1 hingga 7 hari setelah kematian. Selanjutnya, roh diyakini kembali pada hari ke-40, ke-100, hingga ke-1000. Oleh karena itu, pada hari-hari tersebut biasanya diadakan upacara dengan sajian, bacaan mantra, serta nyanyian suci untuk memohon kepada dewa agar roh yang meninggal menjelma menjadi manusia yang baik.

Upacara ini biasanya diawali dengan penyalaan api suci dan pembakaran kemenyan sebagai sarana berhubungan dengan roh serta para dewa. Kemudian, dilanjutkan dengan penyajian makanan dan minuman, serta diakhiri dengan bacaan mantra dan nyanyian suci oleh pendeta.

Penyebaran Islam oleh Wali Songo

Dalam penyebaran Islam di Jawa, para wali membagi wilayah dakwah menjadi tiga:

1. Wilayah Timur

Pengaruh Hindu sangat dominan, karena pusat kerajaan Hindu berada di Jawa Timur.

Ditempati oleh lima wali: Syekh Maulana Ibrahim (Sunan Demak), Raden Rahmat (Sunan Ampel), Raden Paku (Sunan Giri), Maulana Ibrahim (Sunan Bonang), dan Raden Qasim (Sunan Drajat).

0 Komentar