Benarkah Tahlilan Bukan Ajaran Islam? Sejarahnya Terungkap!

Sejarah tahlilan
Sejarah tahlilan. Image: ANTARA
0 Komentar

Murid Sunan Kalijaga, Syekh Siti Jenar, melihat peluang besar dari hal ini. Ia mencoba memadukan ajaran Hindu dengan Islam, sehingga melahirkan sebuah kepercayaan yang dikenal dengan konsep Manunggaling Kawula Gusti, yang berarti “hamba bersatu dengan Tuhan”.

Ajaran tersebut menganggap bahwa untuk mencapai kedekatan dengan Allah, tidak perlu lagi melakukan ibadah syariat seperti salat, puasa, zakat, atau haji. Meskipun akhirnya Syekh Siti Jenar dihukum mati, para muridnya yang sudah tersebar luas tetap menyebarkan ajarannya. Akibatnya, kepercayaan semacam itu tumbuh subur hingga sekarang.

Perkembangan Setelah Wafatnya Para Wali

Setelah para wali wafat, keadaan umat Islam di Jawa semakin jauh dari ajaran Islam yang murni. Para ulama dari Giri terus berusaha memengaruhi para raja Islam agar menegakkan syariat dengan konsisten. Namun, mereka menghadapi tekanan dan ancaman dari para penguasa.

Baca Juga:JX Capital Scam? Modus Investasi Bodong Mirip EV Global5 Rekomendasi Raket Padel Terbaik 2025 untuk Pemula

Kerajaan Demak, yang banyak dipengaruhi aliran Tuban, akhirnya berusaha memindahkan pusat kekuasaan ke Pajang agar terlepas dari pengaruh ulama Giri. Pada masa Kerajaan Mataram Islam, ketika kekuasaan dipegang Amangkurat I, banyak ulama ditangkap dan dibunuh di alun-alun Surakarta.

Melihat tindakan sewenang-wenang tersebut, Trunojoyo, seorang santri dari Giri, menggalang kekuatan untuk menyerang Amangkurat I. Namun pada masa Amangkurat II, serangan itu dibalas dengan bantuan VOC. Giri Kedaton dihancurkan, dan semua keturunan Sunan Giri dibunuh.

Sejak saat itu, ulama-ulama Islam yang konsisten ditegakkan syariat Islam murni semakin lenyap. Yang tersisa hanyalah ulama-ulama moderat yang bersedia menyesuaikan diri dengan kondisi masyarakat, sehingga pengaruh aliran moderat semakin subur.

Kisah Sejarah Tahlilan dan Peran KH. Ahmad Dahlan

Dalam tradisi masyarakat Islam di Jawa, terdapat kisah panjang yang erat kaitannya dengan upacara adat, khususnya yang berkaitan dengan kematian. Praktik ini berlangsung berabad-abad lamanya tanpa ada upaya serius dari para ulama untuk menghapus adat istiadat peninggalan Hindu dan Buddha yang melekat pada praktik keislaman, terutama upacara Pitra Yajña.

Pada tahun 1912, muncullah seorang ulama besar di Yogyakarta bernama Kyai Haji Ahmad Dahlan. Beliau berusaha keras mengembalikan ajaran Islam kepada sumber aslinya, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah. KH. Ahmad Dahlan melihat bahwa praktik Islam di tengah masyarakat Indonesia saat itu telah banyak bercampur dengan ajaran-ajaran yang tidak bersumber dari keduanya. Di mana-mana muncul perbuatan khurafat dan bid’ah, sehingga umat Islam hidup dalam keadaan stagnan, terkungkung dalam kebiasaan dan tradisi lama.

0 Komentar