JABAR EKSPRES – Secara syar’i, tahlil berarti ucapan lā ilāha illallāh yang bermakna “tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah.” Namun, istilah ini kemudian berkembang menjadi sebuah tradisi yang dilakukan setelah kematian seseorang, dikenal dengan sebutan tahlilan.
Perintis, pelopor, sekaligus pembuka penyiaran dan pengembangan Islam di Pulau Jawa adalah para ulama mubaligh yang berjumlah sembilan orang, populer dengan sebutan Wali Songo. Berkat perjuangan mereka, berdirilah kerajaan Islam pertama di Jawa, yaitu Kesultanan Demak yang berpusat di Jawa Tengah.
Dalam upaya menyebarkan Islam di Jawa, para wali menghadapi tantangan besar karena mayoritas masyarakat saat itu beragama Hindu dan Buddha, serta masih kuat memegang tradisi animisme dan dinamisme. Salah satu kesulitan terbesar adalah bagaimana mengikis adat istiadat lama yang sudah mengakar dalam upacara keagamaan.
Baca Juga:JX Capital Scam? Modus Investasi Bodong Mirip EV Global5 Rekomendasi Raket Padel Terbaik 2025 untuk Pemula
Dua Aliran dalam Penyebaran Islam
Untuk menghadapi masalah ini, para wali terbagi dalam dua pendekatan atau aliran, yaitu aliran Giri dan aliran Tuban:
1. Aliran Giri
Dipimpin oleh Raden Paku (Sunan Giri) dengan dukungan tokoh seperti Raden Rahmat (Sunan Ampel), Syarifuddin, Derajat, dan lainnya.
Aliran ini menolak kompromi dengan ajaran Hindu, Buddha, maupun tradisi animisme. Siapa pun yang masuk Islam melalui pendekatan ini harus meninggalkan seluruh adat lama yang bertentangan dengan syariat Islam. Karena kemurniannya, pendekatan ini dikenal dengan istilah Islam Putih.
2. Aliran Tuban
Dipimpin oleh Raden Mas Sahid (Sunan Kalijaga) dengan dukungan Sunan Bonang, Sunan Muria, Sunan Kudus, dan Sunan Gunung Jati.
Berbeda dengan aliran Giri, pendekatan Tuban lebih akomodatif terhadap adat dan budaya lokal. Melalui pendekatan inilah berbagai tradisi Jawa yang masih ada hingga kini, termasuk tahlilan, dapat diterima dan berkembang di tengah masyarakat Muslim Jawa.
Aliran Tuban dikenal sebagai aliran yang moderat. Para wali dari aliran ini membiarkan terlebih dahulu para pengikutnya tetap menjalankan adat istiadat keagamaan lama yang telah mendarah daging dan sulit dihilangkan, dengan tujuan utama agar mereka bersedia memeluk Islam lebih dahulu. Setelah itu, adat yang ada secara bertahap diwarnai dengan nuansa keislaman, sehingga mereka tidak terlalu jauh menyimpang dari syariat.
