JABAR EKSPRES – Kabupaten Bandung Barat (KBB) hingga kini masih belum memiliki sistem peringatan dini gempa bumi atau Early Warning System (EWS).
Padahal, wilayah ini berada di jalur rawan patahan aktif Sesar Lembang yang membentang dari kawasan Cilengkrang, Kabupaten Bandung, hingga Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, sepanjang hampir 30 kilometer.
Sekretaris Daerah (Sekda) KBB, Ade Zakir, mengungkapkan bahwa pemerintah daerah baru mampu melakukan langkah-langkah mitigasi sederhana. Seperti sosialisasi kebencanaan yang dilakukan setiap tahun, terutama kepada pelajar dan warga sekitar jalur rawan.
Baca Juga:Bukan Sebatas Wadah Solidaritas, 234 SC Buktikan Aksi Sosial Nyata Peduli Kemanusiaan Dari Musik Tanaman hingga Fine Dining, Jentik Festival Angkat Gastronomi Nusantara
“Sampai saat ini KBB belum ada (EWS). Tapi memang kita selalu mengingatkan melalui sosialisasi, ke anak-anak sekolah, jalur-jalur ke luar ruangan, tiap tahun kita sosialisasi,” kata Ade Zakir, Selasa (19/8/2025).
Sebelumnya, gempa bermagnitudo 1,8 mengguncang Kecamatan Cisarua, pada Kamis (14/8/2025). Getaran gempa yang diduga berasal dari Sesar Lembang itu sempat dirasakan di Desa Pasirlangu, Tugumukti, dan Pasirhalang. Walau kekuatan gempa kecil dan tidak merusak, peristiwa tersebut menjadi pengingat nyata bahwa Sesar Lembang masih aktif.
Bukan kali ini saja Sesar Lembang menunjukkan aktivitasnya. Pada 2011, gempa bermagnitudo 3,3 pernah mengguncang Kampung Muril, Desa Jambudipa, Kecamatan Cisarua, dan menimbulkan kerusakan bangunan. Catatan historis dan penelitian para ahli geologi menunjukkan bahwa patahan sepanjang 29,5 kilometer ini terus bergerak, meskipun tanpa tanda-tanda kasat mata.
Ade mengaku, beberapa hari lalu Pemkab Bandung Barat bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah membahas langkah-langkah strategis menghadapi potensi bencana Sesar Lembang.
Fokus utama pembahasan adalah penyusunan peta tematik dampak gempa, yang nantinya akan dijadikan dasar perumusan manajemen kebencanaan.
“Jadi minggu kemarin ada rapat di Pemprov Jabar kaitan dengan Sesar Lembang. Jadi soal itu (pendataan warga) memang kaitannya dengan penyusunan peta tematik dampak gempa. Dari data itu nantinya bisa disusun manajemen kebencanaan, pra-kebencanaan, hingga pasca-kebencanaan,” jelasnya.
Menurutnya, inisiatif ini bukan hanya tugas Pemkab Bandung Barat. Pemprov Jawa Barat turut mengambil peran, mengingat dampak gempa besar dari Sesar Lembang diperkirakan tidak hanya berimbas ke wilayah KBB.
