“Tapi juga ke Kota Bandung, Cimahi, serta Kabupaten Bandung yang sama-sama berada dalam kawasan Cekungan Bandung,” imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD KBB, Meidi, menjelaskan bahwa pihaknya telah menyusun dokumen rencana kontijensi (renkon). Dokumen ini memuat skenario evakuasi warga jika sewaktu-waktu terjadi gempa besar akibat aktivitas Sesar Lembang.
“Tentu ada penyesuaian untuk dokumen renkon karena gempa ini, ketika bicara Sesar Lembang, dampaknya tidak hanya di KBB, tapi meliputi Kota Bandung, Cimahi, Kabupaten Bandung atau yang disebut Cekungan Bandung,” jelas Meidi.
Baca Juga:Bukan Sebatas Wadah Solidaritas, 234 SC Buktikan Aksi Sosial Nyata Peduli Kemanusiaan Dari Musik Tanaman hingga Fine Dining, Jentik Festival Angkat Gastronomi Nusantara
Ia menambahkan, berdasarkan kajian geologi, titik nol Sesar Lembang berada di Desa Suntenjaya, Kecamatan Lembang, hingga ke Padalarang. Patahan sepanjang 29,5 kilometer ini terus mengalami pergerakan.
“Atas dasar data yang ada, itu (Sesar Lembang) tetap bergerak ke kiri, ke kanan, serta ke dalam. Dari data itu juga, Sesar Lembang bisa terjadi kapan saja,” katanya.
Meski ancaman selalu ada, Meidi menegaskan bahwa masyarakat tidak boleh terjebak dalam kepanikan. Kewaspadaan dan pemahaman terhadap mitigasi bencana dinilai lebih penting agar masyarakat siap menghadapi kemungkinan terburuk.
“Masyarakat boleh takut, tapi mohon dengan sangat, jangan ketakutan. Kita bekerjasama meminimalisir dampak kegempaan yang ditimbulkan,” tandasnya. (Wit)
