Keluarga di Garda Terdepan, Strategi Cimahi Perangi Penyalahgunaan Narkoba Sejak Dini

Keluarga di Garda Terdepan, Strategi Cimahi Perangi Penyalahgunaan Narkoba Sejak Dini
Sepanjang tahun 2025, Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Cimahi telah merehabilitasi 98 korban penyalahgunaan narkotika.
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Sepanjang tahun 2025, Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Cimahi telah merehabilitasi 98 korban penyalahgunaan narkotika.

Dari jumlah tersebut, 10 orang di antaranya adalah perempuan. Data ini menjadi sinyal kuat bahwa ancaman narkotika di Cimahi masih mengkhawatirkan, terutama di kalangan usia produktif.

Kepala BNN Kota Cimahi, Yulius Amra, menyatakan bahwa persoalan narkotika menuntut penanganan menyeluruh—meliputi pencegahan, penindakan, dan rehabilitasi.

Baca Juga:Gagal di Community Shield, Van Dijk Akui Liverpool Belum Siap Jaga TahtaJay Idzes Tembus Serie A Lagi: Resmi Gabung Sassuolo, Siap Hadapi Juara Bertahan!

“Penyalahgunaan narkotika di kalangan usia produktif ini tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga berimplikasi terhadap stabilitas sosial dan produktivitas daerah,” ujarnya kepada Jabar Ekspres, belum lama ini.

BNN Cimahi menjalankan berbagai upaya rehabilitasi, termasuk layanan rawat jalan, rawat inap, konseling psikologis, hingga program reintegrasi sosial agar mantan pengguna dapat kembali berfungsi di masyarakat.

Selain itu, BNN secara aktif menyosialisasikan bahaya narkoba kepada pelajar, mahasiswa, dan komunitas masyarakat demi membentuk ketahanan diri terhadap godaan narkotika.

“Strategi yang kami terapkan bukan hanya fokus pada penindakan hukum, tetapi juga membangun kesadaran publik melalui edukasi dan pemberdayaan,” jelas Yulius.

Yulius mengungkapkan, kemudahan akses menjadi faktor utama melonjaknya kasus penyalahgunaan narkoba. Transaksi kini jarang dilakukan secara langsung, melainkan melalui media sosial seperti Instagram dan Facebook.

“Mereka (pengguna) mendapatkan barang tanpa harus bertatap muka dengan penjual,” jelasnya.

Motif penggunaan narkoba pun beragam. Sebagian besar pengguna mengaku terpengaruh lingkungan, tekanan kerja, atau keyakinan keliru bahwa narkoba bisa meningkatkan stamina.

Baca Juga:Ribuan Peserta dari 22 Negara Ramaikan Dieng Trail Run 2025, Dongkrak Pariwisata JatengHujan Deras Picu Longsor di Bubulak Bogor, Jalan Setapak Tertutup Material

“Makanya salah persepsinya, karena narkoba itu bukan membuat otak bekerja lebih keras. Otak yang seharusnya beristirahat malah dipaksa terus aktif, sehingga tidak tidur. Kebiasaan ini justru akan merusak jaringan otak mereka,” tegasnya.

Yulius menekankan pentingnya peran keluarga dalam upaya pencegahan. Orang tua dan pasangan diimbau untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku anggota keluarga.

“Kalau anak mulai sering mengunci kamar, itu perlu dicurigai,” ujarnya.

Senada dengan itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk serta Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Cimahi, Fitriani Manan, menyebut lemahnya pengawasan keluarga sebagai akar persoalan.

0 Komentar