Tanpa Bus, Tetap Seru! Walking Tour Ala SMPN 8 Cimahi Kenalkan Sejarah Lokal

Walking Tour Gantikan Studi Tour, Cara SMPN 8 Cimahi Kenalkan Sejarah dan Kearifan Lokal pada Siswa
Siswa Siswi SMPN 8 Cimahi saat Walking Tour ke Sejumlah Tempat Bersejarah di Kkota Cimahi (Mong)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Larangan studi tour ke luar kota bagi siswa PAUD, SD, dan SMP di Kota Cimahi membuat sejumlah sekolah mulai mengganti pendekatannya dalam mengenalkan dunia luar kepada peserta didik.

Salah satunya, SMPN 8 Kota Cimahi yang kini mengembangkan konsep walking tour sebagai sarana edukasi berbasis lokal.

“Ketika study tour dilarang, ya kita juga harus mengikuti kebijakan dari pemerintah, terutama dari komunitas kota yang turunannya ke Dinas Pendidikan,” ujar Ayi Hidayat, Humas SMPN 8 Kota Cimahi saat ditemui Jabar Ekspres, Kamis (31/7).

Baca Juga:Sambut HUT RI ke-80, Bupati Bogor Ajak Warga Hiasi Lingkungan dengan Nuansa Merah PutihManchester United Ngebet Datangkan Benjamin Sesko, Siap Bersaing dengan Newcastle

Walking tour, lanjut Ayi, bukan sekadar alternatif, namun lebih sebagai bentuk eksplorasi potensi lokal yang selama ini mungkin terabaikan.

Ia melanjutkan, dengan banyaknya titik bersejarah di sekitar sekolah, pihak SMPN 8 mulai mengajak siswa menjelajahi lingkungan sekitarnya, seperti Kampung Adat Cirendeu yang letaknya tidak jauh dari lokasi sekolah.

“Kita lebih banyak mengarahkan siswa ke sana. Guru-guru mengajak mereka mengenal Kampung Adat Cirendeu. Selain itu, kami juga pernah ke Kerkop, LP Militer di Poncol, RS Dustira, dan beberapa tempat lainnya,” jelas Ayi.

Ayi menyebut, kegiatan ini bukan hanya sebagai pengganti jalan-jalan konvensional, tapi juga bagian dari pembelajaran yang kontekstual.

Salah satunya dikaitkan dengan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), khususnya pada tema kearifan lokal.

“Materinya tentang budaya, jadi kami meminta sumber data langsung dari Kampung Adat Cirendeu. Ada integrasi pembelajaran di situ,” ujarnya.

Dari sisi biaya, walking tour dinilai jauh lebih terjangkau dibandingkan studi tour luar kota. Bahkan untuk lokasi seperti Kampung Adat Cirendeu, siswa bisa cukup berjalan kaki dari sekolah.

Baca Juga:350 RSLH Disulap Jadi Rumah Nyaman, Pemprov Jateng-Djarum Foundation Kompak BeraksiPemprov Jateng Gaungkan Rabu Pon, Jurus Jitu Bangun Ketahanan Pangan dari Rumah

“Kalau ke Cirendeu mah tinggal ngabring saja ke sana. Nggak ada ongkos. Walaupun ke Kerkop atau Bukit Merah juga, kalaupun ada biaya, nggak terlalu mahal,” terang Ayi.

Meski ada keluhan dari siswa soal rasa lelah karena harus berjalan kaki, namun antusiasme tetap terasa. Menurut Ayi, hal itu menjadi tantangan tersendiri dalam mengubah cara pandang siswa tentang belajar di luar kelas.

“Anak-anak kan, ya wajar kalau bilang capek. Tapi selain menggali kearifan lokal, kan ada nilai kesehatannya juga dari jalan kaki itu,” imbuhnya.

0 Komentar