Dukungan dari orang tua siswa pun dinilai cukup besar. Terlebih saat kegiatan ini dikaitkan dengan pembelajaran kurikulum.
“Kalau orang tua sih, selama itu bagian dari kebijakan sekolah dan kurikulum, pasti mendukung. Sampai saat ini nggak ada yang kontra,” katanya.
Sebelumnya, Kepala Dinas Pendidikan Kota Cimahi, Nana Suyatna, telah menegaskan larangan studi tour ke luar kota.
Baca Juga:Sambut HUT RI ke-80, Bupati Bogor Ajak Warga Hiasi Lingkungan dengan Nuansa Merah PutihManchester United Ngebet Datangkan Benjamin Sesko, Siap Bersaing dengan Newcastle
Sebagai gantinya, ia mendorong agar sekolah mengembangkan konsep walking tour yang memanfaatkan situs-situs sejarah di Cimahi.
“Dari tahun sebelumnya juga kita sudah ada pembatasan dan larangan, dan didorong untuk anak-anak itu melakukan yang namanya walking tour, mengenal tempat-tempat yang bersejarah di Kota Cimahi, sehingga mereka semakin cinta dan bangga terhadap Kota Cimahi,” kata Nana.
Ia menyebut beberapa lokasi yang kini menjadi destinasi edukatif, seperti RS Dustira, Gereja Ignatius, Masjid Abri, dan kawasan-kawasan historis lainnya. Selain edukatif, konsep ini juga dinilai lebih ramah secara ekonomi dan sosial karena tak membebani orang tua.
“Kami dorong kegiatan itu. Karena kalau studi tour, perlu BBM, snack, transportasi, dan lainnya. Sedangkan kalau walking tour, siswa bisa tetap belajar sambil jalan-jalan dengan pemandu lokal yang bisa menjelaskan langsung di lapangan,” tambahnya.
Kebijakan ini juga selaras dengan surat edaran Gubernur Jawa Barat yang menekankan pelarangan studi tour komersial demi melindungi siswa dan orang tua dari beban biaya yang berlebihan.
Di tengah polemik dan pro-kontra yang muncul, sekolah-sekolah di Cimahi seperti SMPN 8 justru menjadikan walking tour sebagai momentum menguatkan koneksi siswa dengan sejarah dan budaya kota Cimahi sendiri. (Mong)
Reporter: Firman Satria
