JABAR EKSPRES – Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Dody Hanggodo menegaskan bahwa pembangunan Bendungan Cijurey di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, merupakan bagian dari strategi nasional untuk mendukung swasembada pangan.
Menurut Dody, pembangunan bendungan ini menjadi bagian dari komitmen jangka panjang pemerintah dalam memperkuat ketahanan air, mendukung ketahanan pangan melalui peningkatan produktivitas pertanian, serta mereduksi banjir.
“Bendungan Cijurey dirancang tidak hanya untuk mengendalikan banjir, tetapi juga menyediakan air baku, meningkatkan potensi tenaga listrik, dan meningkatkan produktivitas pertanian yang tujuannya mendukung program swasembada pangan nasional yang dirancang Presiden Prabowo Subianto,” kata Dody, dikutip dari ANTARA, Senin (28/7).
Baca Juga:Pengamat Dorong Regulasi Ojol yang Berkeadilan: Keseimbangan bagi Ekosistem, Bukan Sekedar Komisi!800 Rombongan Siswa Batalkan Study Tour, Kebijakan Dedi Mulyadi Bikin Ekonomi Wisata Hancur?
Kementerian PUPR terus mempercepat proses konstruksi bendungan tersebut. Hingga akhir Juni 2025, progres fisik pembangunan telah mencapai 30,30 persen, dengan capaian keuangan sebesar 20,39 persen dari kontrak tahun jamak (multiyears contract/MYC).
Setelah rampung, bendungan ini akan memiliki luas genangan mencapai 56,15 hektare dengan kapasitas tampung 14,37 juta meter kubik.
Air dari bendungan akan digunakan untuk mengairi Daerah Irigasi (DI) Cihoe–Cikumpeni seluas 1.486 hektare dan DI Ciomas–Pasang Bedil seluas 60 hektare.
Selain itu, proyek ini diproyeksikan mampu meningkatkan indeks pertanaman dari 180 persen menjadi 265 persen, serta menambah area irigasi baru seluas 501 hektare.
Dari sisi mitigasi bencana, Bendungan Cijurey juga akan berfungsi mereduksi banjir di wilayah hilir Sungai Cihoe. Debit banjir dengan periode ulang 25 tahun (Q25) akan ditekan dari 291,47 m³/detik menjadi 118,53 m³/detik—atau menurun sekitar 59,33 persen.
Tak hanya itu, bendungan ini juga akan menyediakan air baku sebesar 0,71 m³/detik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Kecamatan Cariu dan Sukamakmur, serta memiliki potensi sebagai sumber pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTM) berkapasitas 1 MW dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) sebesar 10 MW.
Pekerjaan yang telah dilaksanakan mencakup pembangunan bendungan utama, saluran pengelak, bangunan pelimpah, infrastruktur instrumentasi, serta akses jalan di sisi kanan dan kiri.
Baca Juga:Dampak Larangan Study Tour Dedy Mulyadi Bikin Pelaku Usaha Travel MenjeritTragis! Remaja 14 Tahun Meninggal Dunia Usai Dilempari Batu Saat Konvoi Motor di Banjar
Beberapa tantangan teknis seperti potensi longsor dan relokasi fasilitas umum telah diatasi melalui penyesuaian desain serta koordinasi intensif dengan pihak terkait.
