Sesepuh Kampung Adat Cireundeu Kritik Beras Oplosan, Bukan Ketahanan Pangan, Itu Soal Keuntungan

Warga Kampumg Adat Cireundeu Saat Panen Beras Rasi (Singkong) (mong)
Warga Kampumg Adat Cireundeu Saat Panen Beras Rasi (Singkong) (mong)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Isu beras oplosan belakangan ini menuai sorotan tajam dari berbagai kalangan. Salah satunya datang dari Sesepuh Kampung Adat Cireundeu, Abah Widi, yang menyayangkan praktik tersebut dan menilai hal itu bertentangan dengan semangat ketahanan pangan sejati.

“Buat apa sih beras harus dioplos?” ujar Abah Widi saat ditemui di kediamannya di Kampung Adat Cireundeu, Kota Cimahi, Senin (21/7/25).

Menurutnya, pengoplosan beras lebih dilandasi kepentingan ekonomi ketimbang kepentingan rakyat.

“Yang jelas mah, tidak harus dioplos beras mah kalau masyarakat. Berapapun harganya, mereka pasti beli. Cuman yang dioplos itu kan hanya mencari keuntungan. Itu niatnya yang salah,” tegasnya.

Baca Juga:Sindikat Perdagangan Bayi Internasional Terbongkar di Bandung, Polda Jabar Buru 2 Otak BesarMasuk Sekolah Lebih Pagi, Orang Tua dan Siswa di KBB Harus Adaptasi

Abah Widi juga menekankan pentingnya peran negara dalam menjaga integritas ketahanan pangan, bukan justru membiarkan praktik-praktik manipulatif semacam itu.

“Sebetulnya makan itu mah bukan niat pemerintah sih. Itu mah orang-orang yang cari untung dari ketahanan pangan. Harusnya pemerintah kawal itu,” ujarnya.

Sebagai bentuk nyata ketahanan pangan mandiri, Kampung Adat Cireundeu sejak 107 tahun lalu tak lagi mengonsumsi beras. Mereka menggantinya dengan rasi, alias beras singkong, yang lebih ramah lingkungan dan menyesuaikan kondisi lokal.

“Mungkin 10 yang dulu 80 tahun, 90 tahun meninggal, tidak pernah makan beras,” tutur Abah.

Menurutnya, langkah ini bukan semata tradisi, tapi juga bagian dari edukasi kepada masyarakat luas agar tidak bergantung pada satu jenis bahan pangan.

“Cireundeu bukan kampung miskin. Sampai sekarang juga mereka ada yang punya sawah, ladang. Termasuk Abah. Tapi kita ingin jadi contoh. Jangan sampai ketahanan pangan kita dipermainkan,” ucapnya.

Lebih jauh, Abah menggambarkan ironi pola konsumsi masyarakat saat ini. Ia mencontohkan, sebagian besar masyarakat mengonsumsi beras dalam berbagai bentuk dari pagi hingga malam, bubur pagi, kupat tahu siang, dan nasi di malam hari. Tapi tetap merasa belum makan.

Baca Juga:Sektor Kriya Bakal Lebih Kebal dari Kesepakatan Dagang TrumpPemanasan di Bangkok, Persib Dapat Suntikan Putros

“Yang dikunyah tadi itu apa? Kalau di Cireundeu paling banyak makan itu dua kali sehari. Karena padat, kenyangnya cukup,” jelasnya.

Namun, Abah mengakui tantangan tetap ada, salah satunya ketersediaan bahan baku singkong. Luas lahan pertanian yang bisa dimanfaatkan terbatas karena sebagian besar wilayah Cireundeu masuk dalam kawasan hutan larangan dan hutan tutupan.

0 Komentar