Ini Strategi SMAN 2 Cimahi Hadapi Kebijakan Gubernur Soal Rombel 50 Siswa!

Ini Strategi SMAN 2 Cimahi Hadapi Kebijakan Gubernur Soal Rombel 50 Siswa!
TPMPS SMAN 2 Cimahi, Uus Suhara saat Ditemui di Ruang Kerjanya. (Mong/Jabar Ekspres)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Kebijakan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), yang menetapkan jumlah siswa dalam satu rombongan belajar (rombel) di SMA/SMK negeri hingga 50 orang per kelas menuai pro dan kontra.

Di satu sisi, kebijakan ini dianggap sebagai solusi untuk menampung lebih banyak siswa dari keluarga tidak mampu dan mencegah anak putus sekolah.

Namun di sisi lain, sekolah-sekolah dengan standar mutu tinggi menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan kualitas pembelajaran.

Baca Juga:DPRD Kota Cimahi Panggil Pejabat Pemkot, Fokus Evaluasi Program dan Tuntaskan Darurat SampahBawaslu RI Ajak Pemuda dan Mahasiswa Jadi Agen Literasi Informasi Pemilu di Bandung Barat

Tim Penjaminan Mutu Pendidikan Sekolah (TPMPS) SMAN 2 Cimahi, Uus Suhara, menilai kebijakan tersebut membawa konsekuensi besar yang harus segera disikapi oleh pihak sekolah.

Ia menegaskan pentingnya penyesuaian metode pembelajaran serta perhatian ekstra terhadap pengelolaan kelas.

“Dengan kebijakan gubernur KDM, sekolah yang semula menampung 36 siswa per kelas kini harus mengakomodasi hingga 50 siswa. Langkah ini memang memiliki sisi positif, terutama untuk mencegah anak putus sekolah. Tapi tentu perlu strategi yang tepat agar kualitas pembelajaran tetap terjaga,” ujar Uus saat ditemui Jabar Ekspres di SMAN 2 Cimahi, Senin (21/7/2025).

Menurut Uus, sebagai sekolah berprestasi, SMAN 2 Cimahi berkomitmen mempertahankan kualitas akademik. Salah satu langkah awal adalah menempatkan guru-guru terbaik di kelas 10 yang akan menghadapi skema kelas besar.

“Guru-guru pilihan yang profesional akan ditugaskan untuk mengelola kelas dengan 50 siswa. Karena ini berbeda dengan kelas 36 siswa. Energi pengajar harus lebih siap dan strategi pengelolaan kelas harus benar-benar matang,” jelasnya.

Ia menambahkan, implementasi kurikulum saat ini yang menekankan pendekatan deep learning menjadi tantangan tersendiri.

“Pembelajaran harus tetap bermakna dan menyenangkan, meski dengan jumlah siswa yang lebih banyak. Maka kami akan mengadakan workshop dalam waktu dekat terkait penerapan deep learning di kelas besar,” tutur Uus.

Baca Juga:Event Besar di Bandung Timbulkan Kemacetan, Warga: Rekayasa Lalu Lintas Tak Jelas! Bangun Menara BTS Tak Boleh Sembarangan, Jarak Aman hingga Dampak Ekologis Harus Dikaji!

Rencananya, SMAN 2 Cimahi akan mengundang para ahli dan instruktur dari berbagai perguruan tinggi untuk memberikan pelatihan kepada para guru agar mampu mengelola kelas besar secara efektif dan efisien.

Namun tantangan bukan hanya soal metode pengajaran, fasilitas pendukung pun menjadi perhatian. Uus menyoroti kondisi ruang kelas yang akan terasa sesak dan panas karena hanya mengandalkan kipas angin, terutama pada jam-jam pelajaran siang hari.

0 Komentar