JABAR EKSPRES – Kenaikan harga daging sapi di Kota Bandung mulai menjadi sorotan setelah sejumlah pedagang di Pasar Kosambi memilih mogok berjualan akibat ketidakstabilan harga di pasaran.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyebut kondisi tersebut terjadi karena adanya persoalan pada rantai perdagangan daging sapi, terutama antara pedagang pasar dengan pemasok daging dari rumah pemotongan hewan (RPH).
Menurut Farhan, saat ini pasokan daging sapi di Kota Bandung tidak sebanyak biasanya karena sebagian pedagang menolak harga karkas sapi yang dinilai terlalu tinggi.
Baca Juga:Pengantin Pria di Garut Diciduk Polisi Usai Akad, Diduga Pelaku Curanmor di IbunBLF MC Resmi Go Digital, Komunitas Moge Ini Siap Naik Kelas Secara Profesional
“Daging sapi saat ini sedang tidak sebanyak biasanya karena ada sebuah hubungan dagang antara pedagang di pasar yang tidak mau menerima harga sapi yang sudah disembelih atau karkas yang terlalu tinggi dari rumah pemotongan hewan,” ujar Farhan, Senin (18/5/2026).
Ia menjelaskan, kenaikan harga daging sapi dipicu oleh beberapa faktor utama, mulai dari naiknya harga bibit sapi impor hingga meningkatnya biaya pakan ternak yang berdampak langsung terhadap harga jual di tingkat distributor.
“Penyebab harga naik itu dua. Satu, bibit sapi impor dari Australia, India dan New Zealand. Dari Selandia Baru itu memang harganya naik. Demikian juga dengan sebagian pakan ternaknya naik,” katanya.
Farhan mengatakan, kondisi tersebut menimbulkan efek berantai terhadap rantai distribusi daging sapi di Kota Bandung. Kenaikan biaya di tingkat peternak dan pemasok membuat harga jual ke pedagang pasar ikut melonjak.
Sementara di sisi lain, para pedagang mengaku kesulitan jika harus menjual dengan harga terlalu tinggi kepada masyarakat karena khawatir daya beli konsumen menurun.
“Nah jadi ini memang akibat berantai yang menyebabkan pedagang itu merasa terlalu berat untuk menjual dengan harga yang diminta oleh para penyuplai daging di Kota Bandung,” ucapnya.
Pemerintah Kota Bandung, lanjut Farhan, saat ini tengah memantau perkembangan harga serta berupaya menjaga stabilitas pasokan agar aktivitas perdagangan di pasar tradisional dapat kembali normal.
Baca Juga:Marriage Is Scary? Film Keluarga Suami Adalah Hama Angkat Realita Rumah Tangga yang Dekat dengan KehidupanTerbantu Program JKN, Enok Bisa Jalani Perawatan Tanpa Khawatir Biaya Pengobatan
Ia juga memastikan komunikasi dengan distributor, pengelola rumah pemotongan hewan, hingga para pedagang terus dilakukan guna mencari solusi terbaik agar kenaikan harga tidak semakin membebani masyarakat.
