Event Besar di Bandung Timbulkan Kemacetan, Warga: Rekayasa Lalu Lintas Tak Jelas! 

Event Besar di Bandung Timbulkan Kemacetan, Warga: Rekayasa Lalu Lintas Tak Jelas! 
Peserta mengikuti half marathon pada ajang Pocari Sweat Run 2025 saat melintasi Jalan Banceuy, Kota Bandung, Minggu (20/7). Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Sejumlah warga Kota Bandung menyampaikan harapan mereka kepada pemerintah kota agar lebih bijak dalam mengatur jadwal dan lokasi penyelenggaraan event besar yang kerap menyebabkan kemacetan parah di berbagai titik pusat kota.

Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah event berskala nasional dan internasional yang digelar di pusat kota, seperti konser musik, festival budaya, dan ajang olahraga, menyebabkan kepadatan lalu lintas yang membuat aktivitas masyarakat terganggu.

Rini (34), warga Jalan Riau ini mengeluhkan kemacetan yang terjadi saat event lari, yang kini baru selesai digelar. Meskipun menurutnya baik untuk penggeliatan ekonomi kota, dirinya menyayangkan soal rekayasa lalu lintas yang tidak digarap secara maksimal.

Baca Juga:Bangun Menara BTS Tak Boleh Sembarangan, Jarak Aman hingga Dampak Ekologis Harus Dikaji!Legislator PPP Turut Prihatin Peristiwa Pesta Berujung Maut di Garut : Ini Jadi Pelajaran

“Saya mendukung event untuk kemajuan kota, tapi sayangnya tidak ada rekayasa lalu lintas yang jelas. Kita-kita lagi yang jadi korban,” ujarnya kepada Jabar Ekspres, Minggu (20/7).

Selain Rini, kritik juga datang dari kalangan pengemudi ojek online. Dani (29), salah seorang driver ojol mengungkapkan bahwa penghasilannya menurun karena waktu tempuh menjadi sangat lama.

“Keluar kan biasanya subuh, langsung aktifin aplikasi. Berhubungan 2 hari ini mah ada event lari, ke arah kota ku saya cancel. Rugi soalnya, ongkos gak seberapa ibaratnya ya, tapi susah ke mana-mana, jadi dua hari ini mah main di timuran,” katanya.

Dirinya berharap, event-event berskala besar macam Pocari Sweet Run bisa digelar di wilayah yang mobilitas masyarakat kotanya sedikit, bukan pada wilayah yang jadi jantung mobilitas warganya. Diakui Dani, penutupan jalan event tersebut merupakan kawasan inti bagi warga Kota Bandung yang melakukan aktifitas keseharian.

“Kenapanya event gini teh harus di pusat kota, udah tau kan jalan Bandung mah kecil. Padahal mun liat tempat mah kan di Bandung Timur termasuk yang luas. Ada Summarecon, Al Jabbar, jadi jogging-na sambil jalan-jalan,” paparnya.

Warga berharap pemerintah dapat mencari solusi yang menyeimbangkan antara promosi pariwisata dan kenyamanan aktivitas harian masyarakat. Dengan adanya evaluasi menyeluruh, warga Bandung berharap kegiatan besar tetap bisa terselenggara tanpa mengorbankan kelancaran mobilitas dan kenyamanan warga kota. (Dam)

0 Komentar