Harga Daging Sapi Bergejolak, Pengamat Ekonomi Nilai Distribusi dan Pasokan Jadi Biang Masalah

Foto ilustrasi penjual daging sapi di pasar Kota Bandung. (Dimas/JE)
Ilustrasi penjual daging sapi di pasar Kota Bandung. (Dimas/JE)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Aksi mogok berjualan yang dilakukan pedagang daging sapi di Pasar Kosambi, Kota Bandung, dinilai menjadi sinyal adanya persoalan serius pada rantai pasok dan stabilitas harga pangan di tingkat daerah.

Pengamat Ekonomi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Adib Sultan, menilai ketidakstabilan harga daging sapi tidak hanya dipicu faktor permintaan pasar, tetapi juga berkaitan dengan distribusi pasokan dari tingkat peternak hingga pedagang.

“Ketika pedagang memilih mogok, artinya margin keuntungan mereka sudah sangat tertekan. Mereka berada dalam posisi sulit karena harga dari distributor naik, sementara daya beli masyarakat belum tentu mampu mengikuti,” ujar Adib saat dimintai tanggapan, Senin (18/5/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi memicu efek domino terhadap pasar tradisional.

Baca Juga:Permudah Akses Masyarakat, Pemkab Tasikmalaya Wujudkan Transformasi DigitalArus Balik Puncak Didominasi Kendaraan ke Jakarta, Jalur Kembali Normal Dua Arah

Selain menurunnya aktivitas perdagangan, konsumen juga mulai beralih ke komoditas lain yang dianggap lebih terjangkau, seperti daging ayam.

“Fenomena peralihan konsumsi ini wajar terjadi. Masyarakat akan mencari substitusi yang lebih murah ketika harga daging sapi dianggap terlalu tinggi atau stok sulit ditemukan,” katanya.

Adib menjelaskan, fluktuasi harga daging sapi biasanya dipengaruhi beberapa faktor, mulai dari biaya distribusi, harga pakan ternak, pasokan sapi dari daerah sentra, hingga ketergantungan terhadap impor.

Ia menilai pemerintah daerah bersama instansi terkait perlu segera melakukan langkah stabilisasi agar persoalan tidak semakin meluas dan memicu inflasi pangan di Kota Bandung.

“Pemerintah harus memastikan distribusi berjalan lancar dan pasokan tersedia. Jika dibiarkan terlalu lama, bukan hanya pedagang yang terdampak, tetapi juga konsumen serta kestabilan ekonomi pasar tradisional,” jelasnya.

Selain itu, Adib juga mendorong adanya komunikasi terbuka antara pedagang, distributor, dan pemerintah guna mencari solusi bersama terkait harga jual yang dinilai memberatkan pedagang.

“Pedagang sebenarnya tidak ingin menaikkan harga terlalu tinggi karena khawatir kehilangan pelanggan. Jadi perlu ada titik temu agar semua pihak tetap bisa bertahan,” tuturnya.

Baca Juga:Polisi Gagalkan Tawuran di Parung Panjang Bogor, 14 Pemuda dan 8 Sajam DiamankanLibur Panjang Bawa Berkah, Bisnis Toilet di Jalur Puncak Bogor Raup Omzet hingga Rp1,5 Juta Sehari

Sebelumnya, seluruh pedagang daging sapi di Pasar Kosambi Bandung memilih mogok berjualan sejak Minggu (17/5/2026). Aksi tersebut diduga dipicu ketidakstabilan harga daging sapi yang membuat pedagang kesulitan menentukan harga jual di pasaran. (Dam)

0 Komentar