Kebijakan Rombel Sekolah Negeri, Orang Tua Siswa Khawatir Ini Berdampak pada Kualitas Pembelajaran

Kebijakan Rombel Sekolah Negeri, Orang Tua Siswa Khawatir Ini Berdampak pada Kualitas Pembelajaran
Siswi berjalan di lorong SMK Negeri 3 Bandung, Kamis (17/7). Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Kebijakan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang menetapkan jumlah rombongan belajar (rombel) hingga 50 siswa di sekolah negeri, memicu kekhawatiran di kalangan orang tua siswa di Kota Bandung.

Meskipun kebijakan ini bertujuan untuk memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, beberapa orang tua mengungkapkan kekhawatirannya terkait dampak terhadap kualitas pembelajaran dan pengalaman belajar anak mereka.

Komara, orang tua siswa yang kini tengah duduk di SMA di Bandung, mengatakan, sebagai orang tua dirinya khawatir kebijakan ini bisa berdampak pada pengalaman belajar sang anak yang kurang efektif.

Baca Juga:Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bandung Soroti Penjualan Bayi di Kabupaten Bandung, Sebut Ini Penyebabnya!Bangunan SMKN 1 Cijeungjing Jadi Rongsokan, Kejari Ciamis: Kerugian Negara Masih Dihitung APIP

“Dengan jumlah siswa yang begitu banyak apalagi 50 ya kalau gak salah, saya khawatir kualitas pengajaran anak saya akan terpengaruh. Guru mungkin akan kesulitan memberikan perhatian yang cukup kepada setiap siswa.” katanya kepada Jabar Ekspres, Kamis (17/7).

Menurut Komara, kebijakan ini memang membuka peluang bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk mendapatkan pendidikan di sekolah negeri dengan biaya yang lebih terjangkau. Namun, ia juga menekankan bahwa kualitas pendidikan bisa terpengaruh.

“Memang bagus, satu sisi membuka peluang bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, tetapi saya juga khawatir jumlah siswa yang sangat banyak bisa mengurangi kualitas pendidikan yang diterima anak saya,” tambahnya.

Kekhawatiran senada juga disampaikan oleh Nia, orang tua siswa di Kota Bandung yang tengah duduk di bangku SMP. Dirinya mengungkapkan bahwa ia merasa cemas jika anaknya harus belajar dalam kelas dengan jumlah siswa yang sangat banyak.

“Jujur aja sih, sebagai orang tua yang anaknya masih SMP, sebentar lagi mau ke SMA, satu tahun lagi. Saaya agak khawatir dengan kebijakan rombel 50 siswa ini. Kalau anak saya sampai masuk kelas yang jumlah siswanya banyak banget, saya takut dia jadi kurang fokus,” ujar Nia.

Meski memahami alasan di balik kebijakan yang ingin memberikan akses pendidikan lebih luas, Nia tetap merasa khawatir.

“Di satu sisi, saya ngerti sih kenapa kebijakan ini diterapkan, terutama buat anak-anak dari keluarga kurang mampu yang butuh akses pendidikan lebih mudah,” kata Nia

0 Komentar