Aksara Daerah di Ambang Kepunahan, Warisan Leluhur Terancam Lenyap

Yudhistira Puranha Sakyatiri, atau lebih dikenal sebagai Mang Ujang Laip (Paling Kiri) saat Menunjukan Aksara Sunda Kuno (Mong)
Yudhistira Puranha Sakyatiri, atau lebih dikenal sebagai Mang Ujang Laip (Paling Kiri) saat Menunjukan Aksara Sunda Kuno (Mong)
0 Komentar

Di tengah dominasi huruf Latin dan derasnya arus globalisasi, eksistensi aksara daerah di Indonesia menghadapi ancaman serius, pelupaan kolektif. Dari aksara Jawa, Sunda, hingga Rejang, sebagian besar kini hanya hidup di ruang akademik dan dokumentasi museum. Padahal, aksara bukan sekadar alat tulis, tapi juga cerminan nilai, cara pandang, serta sejarah suatu bangsa.

Firman Satria, Jabar EkspresĀ 

Pelestarian aksara daerah bukan hanya soal kebanggaan lokal, tetapi soal kelangsungan pengetahuan dan jati diri yang diwariskan lintas generasi. Sayangnya, meski kerap digaungkan dalam wacana kebijakan budaya, praktik pelestarian ini sering kali tertinggal, tergantikan oleh dominasi huruf Latin dan minimnya keberpihakan struktural.

Namun, di tengah tantangan itu, masih ada yang tetap bertahan. Adalah Yudhistira Puranha Sakyatiri, atau lebih dikenal sebagai Mang Ujang Laip (65), yang dari kediamannya di Jalan Kolmas Sukaresmi, Citeureup, Cimahi Utara, terus merawat dan menghidupkan aksara Sunda.

Baca Juga:Renovasi Teras Cihampelas Menunggu Penunjukan Resmi DSDABM, Akses akan Ditutup SementaraRowett Puji Oxford United dan Antusiasme Suporter Indonesia, Siap Hadapi Port FC di Final

“Yang dimaksud aksara daerah adalah sistem tulisan tradisional yang digunakan dalam berbagai bahasa daerah di Nusantara dan merupakan bagian dari kekayaan budaya bangsa dan identitas suatu daerah,” ujar Mang Ujang saat ditemui dikediamannya, Jumat (11/7/25).

Mang Ujang menegaskan, aksara tradisi adalah penanda identitas sekaligus kebanggaan bangsa pemiliknya. Keberadaan aksara bukan hanya simbol linguistik, tetapi juga bagian dari eksistensi dan pengakuan jati diri budaya.

“Pertama, aksara tradisi akan langsung menunjuk kepada satu bangsa yang menjadi pemilik aksara tersebut,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa tidak semua bangsa di dunia memiliki aksara sendiri. Oleh karena itu, bangsa yang memilikinya wajib menjaga dan merawat warisan tersebut sebagai bagian dari martabat budaya.

*Bahwa apabila ciri bangsa itu tidak dipelihara, maka lunturlah hubungan ciri dengan yang dicirikannya,” tegasnya.

Mang Ujang pun memperingatkan, jika aksara Sunda tidak lagi digunakan atau dipelihara, maka eksistensinya sebagai identitas budaya masyarakat Sunda akan menghilang. Dan yang hilang bukan sekadar bentuk tulisan, melainkan jejak historis yang mengikat masyarakat dengan akar budayanya.

“Bahwa aksara adalah salah satu bentuk kemajuan budaya. Kemampuan menulis artinya kemampuan mencipta, dan menggunakan aksara jelas merupakan bukti pencapaian budaya dari bangsa yang memilikinya,” terang Mang Ujang.

0 Komentar