Aksara Daerah di Ambang Kepunahan, Warisan Leluhur Terancam Lenyap

Yudhistira Puranha Sakyatiri, atau lebih dikenal sebagai Mang Ujang Laip (Paling Kiri) saat Menunjukan Aksara Sunda Kuno (Mong)
Yudhistira Puranha Sakyatiri, atau lebih dikenal sebagai Mang Ujang Laip (Paling Kiri) saat Menunjukan Aksara Sunda Kuno (Mong)
0 Komentar

Menurutnya, aksara bukan sekadar lambang atau simbol, melainkan media penting dalam merekam nilai-nilai kebudayaan yang telah membentuk peradaban bangsa. Ini tergambar dalam prasasti-prasasti kuno, naskah-naskah bersejarah, hingga artefak lainnya.

“Artefak-artefak sejarah itu mengandung nilai-nilai pokok yang menjadi kepribadian bangsa pemilik aksara tersebut,” ujarnya lagi.

Mang Ujang juga menyoroti tantangan nyata di lapangan, khususnya di Kota Cimahi. Minimnya minat masyarakat, terutama generasi muda, dinilai sebagai salah satu faktor utama makin terpinggirkannya aksara daerah. Kebutuhan ekonomi yang serba praktis membuat keterampilan membaca dan menulis aksara lokal dianggap tidak relevan.

Baca Juga:Renovasi Teras Cihampelas Menunggu Penunjukan Resmi DSDABM, Akses akan Ditutup SementaraRowett Puji Oxford United dan Antusiasme Suporter Indonesia, Siap Hadapi Port FC di Final

Padahal, kata dia, lembaga budaya dan komunitas lokal seharusnya menjadi motor penggerak literasi aksara daerah. Sayangnya, peran mereka dinilai masih kurang maksimal.

“Oleh karena itu membudayakan minat belajar aksara daerah sangatlah penting untuk masyarakat guna mencapai masyarakat yang melek terhadap peninggalan leluhur bangsanya,” ujarnya.

Mang Ujang mengaitkan fenomena ini dengan berkurangnya jumlah penutur bahasa daerah, yang menyebabkan aksara lama semakin kehilangan daya guna. Menurutnya, banyak simbol dalam aksara lama yang sudah tak lagi mewakili kosakata modern.

“Akibat kuatnya dominasi sistem aksara dari kebudayaan baru di atas kebudayaan lama. Dominasi tersebut bukan hanya karena aksara baru digunakan secara mayoritas, tetapi juga karena keunggulannya yang jauh lebih tinggi daripada aksara lama,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, kini makin langka orang Sunda yang mampu membaca dan menulis aksara Sunda. Inilah yang menjadi pemicu lahirnya keinginan kuat dirinya membentuk komunitas Aksara Daerah di Kota Cimahi.

Namun, Mang Ujang tak mau sekadar bernostalgia. Ia menilai masa depan aksara daerah terletak pada kemampuannya untuk beradaptasi dengan zaman, termasuk hadir di medium digital.

Aksara daerah, katanya, harus dihidupkan melalui buku bacaan, cerita rakyat, hingga dimasukkan dalam kurikulum sekolah dan pelatihan masyarakat.

Baca Juga:Tak Ada Ampun! Satpol PP Tertibkan 5 PKL dan Bangunan Liar di Dua Kecamatan Kota BandungM. Afridzal Raih Adhi Makayasa Akmil 2024/2025: Bukti Kredibilitas Pendidikan Martasandy Psychology Indonesia

“Upaya ini bukan hanya pelestarian, melainkan juga strategi keberlanjutan agar aksara tak terjebak sebagai artefak masa lalu, tapi menjadi bagian dari narasi digital masa depan,” tutur Mang Ujang.

Ia mendukung penuh wacana agar aksara daerah dijadikan pelajaran wajib di sekolah. Sebab baginya, melestarikan bahasa daerah tanpa aksara ibarat merawat pohon tanpa akar.

0 Komentar