“Aksara berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti ‘tidak musnah’. Ini maknanya dalam sekali. Ia menjadi jejak yang tak lekang waktu. Lewat aksara kita bisa membaca sejarah, bukan hanya mendengarnya,” ujarnya.
Dengan penuh semangat, Mang Ujang membayangkan sebuah ruang belajar di Kota Cimahi, tempat generasi muda bisa mengenal dan mencintai kembali aksara nenek moyangnya. Sebuah pusat kegiatan budaya yang hidup, bukan sekadar tempat belajar membaca, tetapi tempat menggali dan menghidupkan kembali identitas kolektif yang nyaris terkikis.
“Di sana, aksara tak sekadar simbol linguistik, melainkan juga identitas yang layak dijaga. Melalui itu, ia ingin membantu pemerintah mewujudkan perlindungan dan pengembangan budaya secara konkret, bukan sekadar slogan dalam pidato seremonial,” ungkap Mang Ujang.
Baca Juga:Renovasi Teras Cihampelas Menunggu Penunjukan Resmi DSDABM, Akses akan Ditutup SementaraRowett Puji Oxford United dan Antusiasme Suporter Indonesia, Siap Hadapi Port FC di Final
*Harapan saya, masyarakat saat ini memahami fungsi naskah-naskah kuno bagi kelangsungan budaya bangsa dan turut serta mencerdaskan bangsa dalam hal budaya, bahasa, sastra, dan aksara daerah. Jika teknologi perpustakaan digital dikembangkan, akses terhadap manuskrip akan sangat mudah tanpa mengurangi keaslian sumber datanya,” tambahnya.
Bagi Mang Ujang, aksara tradisi adalah pondasi identitas. Sebuah warisan budaya yang bukan untuk dikenang, tapi dihidupkan kembali. Sebab hanya bangsa yang mampu merawat dan merevitalisasi nilai-nilai dasarnya, termasuk aksara, yang punya kekuatan bertahan dan bersaing di tengah dunia yang makin seragam.
“Kebanggaan terhadap aksara tradisional adalah bentuk kesadaran historis sekaligus penegasan eksistensi di hadapan dunia,” tandasnya. (Mong)
