Semua itu adalah nilai tak terlihat (invisible value) yang tidak tercantum dalam tabel spesifikasi, tetapi sangat terasa dalam jangka panjang. Inilah bentuk nyata dari rasa kepercayaan yang dimiliki masyarakat terhadap motor ini.
Kepercayaan yang Mengalahkan Logika
Jika dilihat secara teknis, Honda PCX pun sebenarnya tidak sempurna. Ada keluhan tentang mesin yang mudah overheat, kruk as (crankcase) yang rawan bocor, atau tangki bahan bakar yang mudah berkarat. Namun, walaupun hal itu terjadi, rasa percaya yang sudah melekat membuat konsumen tetap setia.
Kepercayaan ini tidak terbentuk dalam semalam. Honda telah membangunnya selama puluhan tahun, lewat konsistensi, layanan purnajual, dan branding yang kuat. Maka tidak heran, meski terus dikritik dan dibanding-bandingkan, Honda PCX tetap laku dan diminati.
Baca Juga:Mengapa IPK Tinggi Tak Lagi Jadi Penentu Kesuksesan di Dunia Kerja7 Penemuan Misterius yang Diduga Peninggalan Iblis dan Kekuatan Gelap
Dalam dunia otomotif, ketika branding merek sudah bermain kuat, akan muncul satu hal lain yang tak bisa dihindari, yaitu fanatisme. Menariknya, dari fanatisme inilah, meskipun sebuah produk dinilai kurang fitur, tertinggal dalam teknologi, atau memiliki desain yang dianggap aneh, tetap saja yang dibeli adalah nama besarnya.
Kondisi ini mirip dengan fenomena iPhone. Banyak smartphone Android yang jauh lebih murah dan lebih canggih, namun tetap saja iPhone laris manis. Padahal, dari tahun ke tahun, peningkatannya tampak minim, desain sama, kamera belakang serupa, dan perubahan lainnya nyaris tak terlihat. Namun, mengapa orang tetap menggilainya?
Jawabannya ada pada tiga kata kunci: prestise, kemudahan ekosistem, dan kenyamanan psikologis. Hal yang sama berlaku pada Honda PCX.
Apakah PCX Hanya Menang di Nama Besar?
Sebenarnya tidak. Jika bicara soal kenyamanan, secara pribadi saya lebih menyukai berkendara menggunakan PCX dibandingkan NMAX. Gaya berkendara NMAX terasa lebih sporty, dan sesuai dengan desainnya yang agresif. Namun, karakter sporty biasanya disertai dengan jok yang lebih keras dan suspensi yang juga terasa kaku, meskipun performanya enak untuk bermanuver.
Sementara itu, meskipun sama-sama skutik besar, Honda PCX menghadirkan pengalaman berkendara yang berbeda. Joknya terasa sedikit lebih empuk, suspensinya memang tidak jauh beda dengan NMAX (sama-sama agak keras), tetapi posisi duduk di PCX lebih rileks dan santai.
