Ketimpangan Relokasi Bencana di KBB, Nyalindung Prioritas, Wilayah Lain Menanti

Sungai Cimeta meluap merusak sejumlah rumah di Desa Nyalindung, Kecamatan Cipatat, Bandung Barat. Minggu (16/3). Dok Jabar Ekspres/Suwitno
Sungai Cimeta meluap merusak sejumlah rumah di Desa Nyalindung, Kecamatan Cipatat, Bandung Barat. Minggu (16/3). Dok Jabar Ekspres/Suwitno
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Ketimpangan penanganan relokasi korban bencana alam di Kabupaten Bandung Barat (KBB) kini makin mencolok.

Di tengah upaya percepatan pembangunan hunian baru bagi korban banjir Sungai Cimeta di Desa Nyalindung, Kecamatan Cipatat. Justru ratusan warga dari wilayah terdampak bencana lain masih hidup dalam ketidakpastian, tanpa kejelasan kapan dan di mana mereka akan direlokasi.

Sekedar diketahui, saat ini Pemerintah Kabupaten Bandung Barat, bersama mitra swasta, telah menyiapkan skema relokasi untuk 30 kepala keluarga (KK) korban banjir Sungai Cimeta. Bantuan tersebut berasal dari program Corporate Social Responsibility (CSR) bank bjb.

Baca Juga:Bandung Zoo Ditutup Sementara! Konflik Dualisme Pengelola Picu KeteganganKenaikan HET LPG 3 Kg di Bandung Raya Bikin Gelisah, Hiswana: Sosialisasi Mendadak

Bupati Bandung Barat, Jeje Richie Ismail mengatakan, setiap rumah akan mendapatkan anggaran sebesar Rp55 juta, terdiri dari Rp40 juta CSR dan Rp15 juta tambahan dari pemerintah daerah.

“Alhamdulillah kita mendapat bantuan CSR untuk 30 KK. Lahan awal sebenarnya sudah ada, tapi masih termasuk kawasan rawan bencana. Kita rencanakan pindah ke lahan milik PT Nyalindung. Sekarang sedang dikoordinasikan. Kalau tanah sudah aman dan dana siap, langsung kita bangun,” ujar Jeje di Ngamprah, Kamis (3/7/2025).

Menurutnya, relokasi ini menyasar 27 KK yang sebelumnya bermukim di bantaran Sungai Cimeta dan 3 KK korban longsor. Bentuk rumah yang dirancang adalah rumah panggung, disesuaikan dengan kondisi geografis wilayah.

“Konsepnya memang sudah ada, mirip rumah panggung. Total ada 30 rumah,” jelas Jeje.

Ia menjelaskan, lahan awal yang semula direncanakan di tanah kas desa ternyata masuk dalam zona merah bencana, berdasarkan kajian Institut Teknologi Bandung (ITB).

“Akhirnya dilakukan tukar guling dengan PT Nyalindung. Dari total lahan 4 hektare, yang digunakan hanya 5.000 meter persegi untuk pembangunan 30 rumah,” jelasnya.

Namun sayang, cerita berbeda datang dari lokasi bencana lain di Bandung Barat. Lima wilayah terdampak bencana yang sebelumnya dijanjikan akan direlokasi justru belum mendapat realisasi apa pun.

Baca Juga:Kasus TBC di Bandung Turun, Pemkot Fokus Perluas SkriningAlasan Dedi Mulyadi Ganti Nama RSUD Al Ihsan jadi Welas Asih

Salah satunya adalah Kampung Cigombong, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga. Sejak peristiwa tanah bergerak pada Februari 2024, sebanyak 48 KK atau 192 jiwa kehilangan tempat tinggal.

Saat itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto menjanjikan relokasi akan rampung dalam waktu dua hingga enam bulan. Namun, hingga Juli 2025, belum satu pun rumah relokasi dibangun.

0 Komentar