JABAR EKSPRES -Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung mencatat tren penurunan kasus tuberkulosis (TBC) di wilayahnya sepanjang tahun ini. Berdasarkan data per Juni 2025, jumlah temuan kasus TBC mencapai 6.941, turun dari sekitar 18.000 kasus pada tahun sebelumnya.
Pelaksana tugas Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung, Anhar Hadian, menjelaskan penurunan tersebut didorong oleh upaya skrining yang semakin masif.
“Memahami TBC begini, pemerintah pusat menugaskan ke daerah melakukan screening pada warganya. Sebetulnya sudah sejak lama discreening tapi lebih intensif ketika cek kesehatan gratis. Maka kami aktif. Jadi seluruh warga discreening,” kata Anhar kepada Jabar Ekspres, Rabu (2/7).
Baca Juga:Alasan Dedi Mulyadi Ganti Nama RSUD Al Ihsan jadi Welas AsihSerunya Push Bike Event di FOX LITE Hotel majalaya! Anak-anak Berkompetisi dengan Ceria dan Penuh Semangat
Dirinya menilai semakin banyak warga yang disaring, maka peluang penemuan kasus menjadi lebih besar. Terlebih apabila semakin banyak yang di-screening, lalu banyak ditemukan kasus. Itu merupakan hal bagus.
“Karena ketahuan. Masih banyak yang belum sadar bahwa dirinya TBC. Ketika dironsen ada indikasi TBC dan diperiksa lebih lanjut. Nah ketika daerah angka TBC-nya tinggi artinya screening bagus,” jelas Anhar.
“Penemuan bagus. Jadi apabila temuan TBC rendah bisa jadi screening-nya tidak bagus. Jadi kita orientasi terus screening, yang pasti ketahuan TBC dan obati,” ujarnya.
Terkait pengembangan vaksin, Anhar menyebut pihaknya masih menunggu hasil uji klinis vaksin TBC yang dicanangkan lembaga internasional. “Vaksin Bill Gates masih menunggu,” katanya.
Sementara itu, Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengatakan Bandung menjadi salah satu wilayah yang akan terlibat dalam uji coba vaksin tersebut.
“Kami masih menunggu perkembangannya. Karena Bandung bakal menjadi salah satu pengujian vaksin yang baru itu. Mudah-mudahan bisa memberi hasil yang baik. Tapi saya tidak akan berurusan yayasan itu. Saya hanya menunggu report Bio Farma,” ucap Farhan.
Dia menegaskan kasus TBC tetap menjadi perhatian meskipun angkanya menurun. “Walaupun cuma (bertambah) satu, ya, masih tinggi kasusnya,” pungkasnya.
