Ini Kata Pemkot Bandung Soal Langkah Mitigasi di Tengah Ancaman Bencana

Ini Kata Pemkot Bandung Soal Langkah Mitigasi di Tengah Ancaman Bencana
Ilustrasi: Mitigasi pengurangan resiko bencana bagi anak-anak beberapa waktu lalu. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung terus memperkuat langkah mitigasi risiko bencana dengan pendekatan berbasis kolaborasi ilmiah dan teknologi kebencanaan.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan menyebut, upaya ini mencakup pengembangan sistem intel kebencanaan yang kini tengah dijajaki bersama perguruan tinggi, lembaga riset, dan mitra-mitra strategis di bidang penanggulangan bencana.

Farhan mengungkapkan, meskipun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bandung telah dibentuk, proses pelantikan personel masih menunggu persetujuan dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).

Baca Juga:Harga LPG 3 Kg Naik Tajam, Pemkot dan Hiswana Saling Lempar Tanggung JawabLantik ASN di Kolong Tol Cisumdawu, Dedi Mulyadi Sindir Buruknya Pengelolaan?

Kendati demikian, diakuinya, berbagai langkah proaktif sudah dilakukan untuk membangun kesiapsiagaan kota dalam menghadapi potensi bencana.

“Oh itu masih berjalan. Jadi gini, kalau soal kebencanaan kita itu sekarang memang sedang mencari dan kolaborasi dengan banyak pihak. Perguruan tinggi-perguruan tinggi, terutama, itu sudah mulai mengajak tim BPBD bayangan kita,” kata Farhan, Kamis (3/7).

Meski secara struktural BPBD Kota Bandung belum sepenuhnya aktif karena persoalan administrasi, Pemerintah Kota tidak tinggal diam. Pihaknya telah mulai menjalin kerja sama dan komunikasi dengan berbagai lembaga mitigasi kebencanaan.

Seiring dengan itu, Pemkot Bandung juga mulai mengeksplorasi penerapan teknologi sensory dan sistem intelijen kebencanaan berbasis data. Teknologi ini diharapkan dapat membantu dalam memetakan potensi risiko bencana secara lebih presisi dan real-time.

Terutama, fokus diarahkan pada deteksi dini terhadap risiko-risiko bencana yang berkaitan dengan kondisi geologis Kota Bandung yang berada di jalur patahan aktif salah satunya Sesar Lembang.

“Beberapa teknologi sensori juga sedang kita jajaki. Dan yang terutama tentunya adalah bagaimana kita bisa membaca risiko-risiko yang bisa terjadi karena adanya bencana-bencana, terutama risiko karena kita berada di patahan Sesar Lembang,” ungkapnya.

Patahan Lembang merupakan salah satu ancaman laten yang terus dipantau oleh para ahli geologi karena memiliki potensi menimbulkan gempa bumi besar. Dengan pertumbuhan penduduk dan urbanisasi yang pesat di wilayah Bandung Raya, kesiapsiagaan terhadap skenario terburuk menjadi sangat penting.

Baca Juga:Jalan Soekarno Hatta Arah Cibiru Banjir, Sejumlah Kendaraan Roda Dua MogokLayaknya Raja di Hadapan Pasukan, Dedi Mulyadi Lantik Sekaligus Beri Tugas ASN Pemprov Jabar di Kolong Tol Cisumdawu

Farhan menegaskan, pendekatan mitigasi tidak hanya berbasis pada struktur kelembagaan formal, tetapi juga menekankan pentingnya jaringan kerja dan ekosistem kolaboratif antar instansi, akademisi, dan masyarakat sipil.

0 Komentar