JABAR EKSPRES – Pameran tunggal bertajuk Brahala: The Friendly Bogaboo karya Suryo Herlambang tengah digelar di Semata Gallery, Jalan Cibadak, Kota Bandung, sejak 12 Juni hingga 6 Juli 2025.
Lewat serangkaian karya patung dan visual figuratif, Suryo mengajak pengunjung menelusuri ulang hubungan manusia dengan sejarah, spiritualitas, dan fiksi.
Kurator sekaligus art director Semata Gallery, Wilman Hermana, menyebut pameran ini sebagai ruang tafsir yang cair.
Baca Juga:Ribuan Peserta BPJS Gratis Dicoret Massal di KBB, Ini Penyebabnya!Pernikahan Tinggi, Perceraian pun Tinggi, Kemenag Cimahi Dorong Bimbingan Catin untuk Tekan Konflik Rumah Tangga
“Bukan hanya pameran visual, tapi ajakan untuk berpikir ulang tentang eksistensi, kepercayaan, dan kemanusiaan,” jelasnya.
Dari sana, Suryo menghadirkan sosok-sosok imajiner yang disebut sebagai bogaboo, yakni makhluk yang lahir dari dongeng, memori kolektif, hingga tafsir peradaban alternatif.
Alih-alih menakutkan, bogaboo dalam karya Suryo tampil sebagai teman yang jenaka, absurd, namun menyentuh sisi manusiawi.
Karya-karyanya menghadirkan dunia fiksi yang mengaburkan batas antara sains dan spiritualitas, mitos dan realitas.
“Kita diajak tertawa, bertanya, bahkan bermain dengan rasa ingin tahu yang mungkin telah lama hilang,” tulis Wilman dalam catatan kuratorialnya
Sekaligus menggugah pertanyaan tentang asal-usul manusia dan proses menjadi “beradab”.
Latar belakang Suryo dalam desain komunikasi visual dan arsitektur memperkaya pendekatannya.
Dia membangun gestur ekspresif dalam bentuk figuratif yang menantang cara konvensional melihat sejarah dan kebenaran.
Baca Juga:Viral! Seorang Pria Diduga Dikeroyok oleh 30 OTK di Dekat Graha Persib, Polisi Selidiki Pelaku Lonjakan Wajib Pajak Membeludak, Samsat Cimahi Prioritaskan Lansia dan Disabilitas
Pengalaman residensinya di Tasmania dan Korea Selatan juga turut membentuk cara pandangnya yang transkultural.
Brahala menjadi lanjutan dari eksplorasi Suryo sebagai seniman patung yang dikenal lewat pendekatan satire dan campuran antara spiritualitas, fiksi ilmiah, dan tafsir budaya.
Diketahui dirinya mulai aktif berpameran sejak 2016 dan telah tampil di berbagai ajang di dalam maupun luar negeri.
Kini, karyanya menghidupkan galeri kecil di kawasan Kota Lama Bandung menjadi ruang kontemplatif penuh imajinasi liar.
