Hotel Mewah Bersuara, Pemkot Bandung Perlu Strategi Dongkrak Wisatawan

Hotel Mewah Bersuara, Pemkot Bandung Perlu Strategi Dongkrak Wisatawan
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Pemerintah telah memberi lampu hijau untuk kegiatan rapat pemerintah bisa dilakukan di hotel. Hal itu disikapi oleh sejumlah pemerintah daerah, salah satunya Pemkot Bandung.

Wali Kota Bandung Muhamad Farhan lebih memilih agar kegiatan rapat yang dimaksud dilakukan di hotel bintang 3 ke bawah. Artinya masih menutup peluang untuk hotel bintang 4 dan 5 atau hotel mewah.

Kebijakan itupun menuai respons para pelaku usaha hotel mewah. Salah satunya Swiss Belresort Dago Heritage. Menurutnya, kebijakan itu penuh dilema. Mesti ada strategi lain dari Pemkot untuk mendongkrak okupansi hotel mewah yang ada.

Baca Juga:Proyek Pembangunan SDN Gang Aut Kota Bogor Renggut Korban Jiwa, Ini KronologinyaDedie Rachim Bersama Gerindra Kota Bogor Perkuat Kolaborasi, Kawal Program Asta Cita

Director of Sales & Marketing Swiss Belresort Dago Heritage Rani Noviyanti menuturkan, kebijakan efisiensi anggaran yang dilakukan pemerintah mulai awal 2025 lalu cukup berdampak pada industri perhotelan. Contoh di hotelnya, sampai saat ini juga belum pernah ada kegiatan rapat atau kegiatan dari OPD Pemkot Bandung.

“Ini sangat signifikan dampaknya. Penyokong bisnis perhotelan itu salah satunya rapat pemerintah. Kalau ada efisiensi, tentu akan berdampak signifikan pada revenue hotel,” jelasnya, Jumat (20/6).

Misalnya di Swiss Belresort Dago Heritage, ada sekitar 10 persen dari segmen MICE pemerintah. Itu selain fit leisure dan social events.

Kini, lampu merah efisiensi itu telah jadi hijau. Namun Pemkot Bandung bersikap berbeda. Atau hanya memberi lampu hijau untuk hotel bintang 3 ke bawah. “Ini dilema ya, karena semua hotel mau bintang 2 ataupun 5 pun masih perlu suntikan dari segmen government,” bebernya.

Menurut Rani, izin dari Mendagri terkait rapat itu jadi angin segar bagi industri perhotelan. Namun kebijakan dari Pemkot Bandung jadi belum menggembirakan ketika hanya fokus pemulihan pada hotel bintang 3 ke bawah. “Industri hotel kan tidak hanya bintang 3 ke bawah saja,” sebutnya.

Kebijakan efisiensi anggaran menuntut industri perhotelan bekerja keras untuk merubah strategi. Keran telah dibuka, tapi Pemkot Bandung membatasi hanya untuk bintang 3 ke bawah.

“Kami harap, Pemkot Bandung punya strategi khusus untuk menggaet kegiatan – kegiatan di luar kegiatan pemerintah. Event misalnya. Atau meningkatkan fasilitas umum agar makin memikat wisatawan dari luar Bandung,” cetus Rani.

0 Komentar