JABAR EKSPRES – Rencana acara lari bertabur serbuk warna alias Color Run yang hendak digelar Toserba Yogya Ciamis besok, Minggu (22/6/2025), mendadak berubah total.
Panitia terpaksa menggelindingkan konsep baru dan memohon maaf secara terbuka setelah rencana awalnya dihujam tuduhan keras karena diduga membawa simbol dan mempromosikan komunitas LGBT. Kontroversi ini memanaskan suasana kota yang dikenal religius hanya dalam hitungan jam.
Gelombang penolakan pertama kali datang dari Front Persaudaraan Islam (FPI) Ciamis. Sang ketua, KH. Wawan Abdul Malik Marwan, menyatakan keterkejutan dan kegeramannya.
“Kami akan turun langsung ke pihak Toserba Yogya untuk melakukan investigasi dan melobi panitia agar membatalkan kegiatan tersebut,” tegasnya, Jumat (20/6/2025).
Baca Juga:Gagasan E-voting Pilkades Dedi Mulyadi Disambut Baik Asosiasi BPD JabarJerit Pengangguran di Kota Metropolitan: Bandung Berbenah di Tengah Ledakan Tenaga Kerja Muda
Wawan tak main-main. Ia mengancam akan mendatangi Mapolres Ciamis guna meminta pencabutan izin acara. Alasannya, Color Run ini menurutnya berpotensi menjadi kendaraan promosi terselubung bagi LGBT yang ia sebut sudah dalam ‘kondisi darurat’ di Ciamis.
“Sudah ada kasus yang terungkap, dan korbannya pun banyak. Maka, jika ada kegiatan yang secara simbolik dikaitkan dengan mereka, tentu sangat tidak pantas,” ujarnya prihatin.
Penolakan serupa dilayangkan oleh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Ciamis. Ketua HMI Ciamis, Adytya Maulana Aziz, menegaskan bahwa kegiatan Color Run berbenturan frontal dengan nilai dan norma masyarakat Ciamis yang kental nuansa agama.
“Color Run memang sangat identik dengan simbol-simbol LGBT, seperti penggunaan serbuk warna-warni yang ditaburkan kepada peserta. Walaupun panitia menyatakan tidak ada kaitannya, masyarakat sudah memahami simbol tersebut,” argumentasinya.
Adytya juga mengutip dalil agama untuk menguatkan sikapnya. “Dalam hadits disebutkan, ‘Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka Ia bagian dari kaum tersebut.’ Kami tidak ingin Ciamis dikenal sebagai daerah yang mendukung budaya LGBT,” tegasnya.
Peringatan bernada lebih tinggi datang dari Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Ciamis, KH. Saeful Ujun.
Ia tak hanya menyoal kesesuaian dengan norma, tetapi juga mengaitkannya dengan potensi murka Ilahi. “Ciamis dikenal sebagai daerah religius. Maka, kami meminta kepada pihak-pihak terkait agar tidak memberikan izin atas kegiatan seperti ini,” serunya.
