KH. Saeful bahkan menyelipkan isyarat tentang bencana alam yang kerap melanda. “Apalagi, di tengah bencana yang datang silih berganti, kita harus lebih berhati-hati,” imbuhnya.
Dibombardir kritik dan ancaman pemboikotan dari berbagai lini, panitia pun tak berkutik. Ketua Panitia Color Run Toserba Yogya Ciamis, Muhammad Azka, tampil membawa bendera putih dan permohonan maaf.
Dalam klarifikasinya, Azka mengaku pihaknya sama sekali tidak menyadari adanya konotasi negatif terkait simbolisme Color Run.
Baca Juga:Gagasan E-voting Pilkades Dedi Mulyadi Disambut Baik Asosiasi BPD JabarJerit Pengangguran di Kota Metropolitan: Bandung Berbenah di Tengah Ledakan Tenaga Kerja Muda
“Kami tidak mengetahui bahwa kegiatan Color Run berkaitan dengan isu LGBT. Kegiatan ini sudah kami persiapkan selama tiga bulan,” ujarnya.
Namun, tekanan yang datang bertubi-tubi membuat panitia mengambil langkah drastis. “Setelah mendengar keberatan dari berbagai pihak, kami memutuskan untuk mengganti acara menjadi Fun Run,” jelas Azka.
Konsep tabur warna-warni yang menjadi ciri khas Color Run pun dikubur dalam-dalam. Azka menyampaikan permohonan maaf secara terbuka dan resmi kepada MUI, FPI, HMI, dan seluruh masyarakat Ciamis. “Seluruh materi promosi seperti poster digital di media sosial juga sudah kami hapus,” tambahnya.
Ia menegaskan komitmen menghilangkan segala elemen yang berpotensi menyinggung. Ia juga menekankan bahwa tujuan awal acara murni untuk menyemarakkan Hari Bhayangkara dengan kegiatan positif, dan menyebut peserta yang telah mendaftar mencapai 1.000 orang yang kini harus puas dengan Fun Run tanpa warna-warni pelangi. (CEP)
