JABAR EKSPRES – Perang Iran-Israel hingga kini masih terus berlanjut, untuk itu Indonesa juga perlu memitigasi risiko dampaknya. Hal itu disampaikan oleh Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita, di Jakarta, Rabu (18/6).
“Karena itu, industri dalam negeri diminta lebih efisien dalam penggunaan energi dalam proses produksi. Penggunaan energi lebih efisien dari berbagai sumber dapat meningkatkan produktivitas dan daya saing produk industri,” ujarnya, dikutip Kamis (19/6/2025).
Menurutnya, meskipun secara geografis jauh dari Tanah Air namun dampak perang terbuka negara Timur Tengah itu perlu diwaspadai, terutama terhadap industri.
Baca Juga:COO Danantara: BUMN Pailit Karena Rekayasa Laporan KeuanganDedi Mulyadi Bakal Siapkan Indekos untuk Penunggu Pasien RSUP Hasan Sadikin, Agar Keluarga Tak Depresi?
Hal itu, kata dia, lantaran industri dalam negeri yang ketergantungan pada energi impor sebagai penyedia bahan baku maupun komponen input produksi.
Untuk itu, mitigasi sangat diperlukan guna mengantisipasi gangguan pada rantai pasok global, terutama pada rantai pasok bahan baku industri karena jalur logistik dan produk ekspor melewati Timur Tengah yang sedang dilanda konflik terbuka saat ini.
Selain pasokan bahan baku yang mungkin akan terkendala, Menperin juga mengingatkan industri manufaktur memitigasi dampak perang Iran-Israel terhadap gejolak nilai tukar mata uang yang berakibat terhadap inflasi harga input produksi dan penurunan daya saing ekspor produk.
Di samping itu, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) juga mendorong para pelaku industri untuk mendiversifikasi sumer energi yang digunakan dalam produksi.
Ini menjadi krusial mengingat ketergantungan pada energi fosil impor, erutama yang berasal dari kawasan Timur Tengah yang risikonya semakin tinggi di tengah perang terbuka.
Bahkan, Kemenperin terus mendorong agar sektor manufaktur dapat menghasilkan produk-produk yang mendukung program ketahanan energi nasional, seperti mesin pembangkit, infrastruktur energi, dan komponen pendukung energi terbarukan.
Di sektor pangan, Agus juga menyoroti urgensi hilirisasi produk agro sebagai respons strategis terhadap dampak tidak langsung perang Iran–Israel terhadap ekonomi global.
Baca Juga:Tebing Galian Pasir di Cirebon Longsor, 2 Korban Tertimbun Meninggal DuniaAtasi Banjir Kronis, Kecamatan Gedebage Usulkan Dua Rumah Pompa
Konflik tersebut telah menyebabkan lonjakan biaya logistik internasional, mendorong inflasi global, dan memicu gejolak nilai tukar dolar AS terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Ketiga faktor tersebut, kata Agus, secara langsung dapat meningkatkan harga bahan baku dan produk pangan impor.
