JABAR EKSPRES – Produksi gabah di Kabupaten Bandung Barat (KBB) terancam turun hingga 15 persen apabila kemarau panjang akibat fenomena El Nino terjadi secara ekstrem.
Ancaman tersebut mengingatkan pada kondisi tahun 2023 ketika produksi gabah di Bandung Barat mengalami penurunan sekitar 5 hingga 7 persen dari target tahunan akibat dampak kekeringan yang melanda sejumlah sentra pertanian.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) KBB, Lukmanul Hakim, mengatakan kekeringan menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi produktivitas pertanian, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas hasil panen.
Baca Juga:Petani Tembakau Keluhkan Aturan Kemenkes Soal Pembatasan Nikotin, Ini Kata DKPP Sumedang! DKPP KBB Siagakan 122 Pompa Air untuk Antisipasi Kekeringan
“Jika kekeringan tahun ini meningkat hingga kategori ekstrem, produksi gabah berpotensi turun antara 10 sampai 15 persen. Dampak terbesar biasanya terjadi di lahan tadah hujan yang mengalami gagal panen atau puso,” kata Lukmanul saat dikonfirmasi, Senin (15/6/2026).
Menurut dia, dampak kekeringan tidak hanya mengurangi hasil panen, tetapi juga menurunkan kualitas gabah yang dihasilkan petani.
“Pada lahan yang masih bisa dipanen, kualitas gabah cenderung menurun karena jumlah gabah hampa meningkat akibat kekurangan air,” ujarnya.
Meski dibayangi ancaman kekeringan, capaian produksi gabah Bandung Barat hingga saat ini masih menunjukkan tren positif. Selama periode Januari hingga Mei 2026, produksi tercatat mencapai 112.351 ton Gabah Kering Panen (GKP).
Jumlah tersebut setara dengan 96.645 ton Gabah Kering Giling (GKG) atau sekitar 60.615 ton beras. Capaian itu telah memenuhi sekitar 49,4 persen dari target produksi gabah Kabupaten Bandung Barat tahun 2026.
Untuk mengantisipasi dampak kemarau panjang, DKPP KBB menyiapkan berbagai langkah mitigasi, mulai dari penguatan infrastruktur pengairan pertanian hingga penyaluran bantuan pompanisasi bagi lahan yang masih memiliki sumber air.
Pemerintah daerah juga mengoptimalkan fungsi irigasi perpompaan, jaringan irigasi air tanah, irigasi perpipaan, serta jaringan irigasi primer, sekunder, dan tersier guna menjaga ketersediaan air bagi lahan pertanian.
Baca Juga:Kemarau Ancam Pasokan Pangan, DKPP Kota Bandung Intensif Pantau Stok dan HargaAntisipasi El Nino, DKPP Bandung Ingatkan Ancaman Kemarau Panjang terhadap Ketahanan Pangan
Selain itu, petani didorong menerapkan teknik budidaya hemat air melalui penyesuaian musim tanam, penggunaan varietas tahan kekeringan seperti Inpago dan Inpari 42, serta diversifikasi tanaman ke komoditas palawija yang membutuhkan air lebih sedikit.
“Penguatan kelembagaan juga dilakukan melalui sinergi kelompok tani bersama Penyuluh Pertanian Lapangan, POPT, serta pendampingan dari TNI dan Polri agar upaya mitigasi bisa berjalan lebih efektif,” ujar Lukmanul.
