DPRD KBB Bakal Kawal Anggaran Perbaikan Irigasi D.I Rajamandala

DPRD KBB Bakal Kawal Anggaran Perbaikan Irigasi D.I Rajamandala
Lahan sawah yang mengering akibat minimnya pasokan air membuat petani tak lagi bisa menanam padi. Dok Jabar Ekspres/Suwitno
0 Komentar

JABAR EKSPRES – DPRD Kabupaten Bandung Barat bakal mengawal percepatan perbaikan jaringan D.I Rajamandala di Kecamatan Cipatat yang selama ini dikeluhkan petani.

Kerusakan yang terjadi di sepanjang jaringan irigasi tersebut dinilai berdampak langsung terhadap produktivitas lahan pertanian. Karena itu, pemerintah daerah didorong segera mengalokasikan anggaran agar perbaikan dapat segera direalisasikan.

Anggota DPRD KBB Wendi Sukmawijaya mengatakan, persoalan D.I Rajamandala sudah berlangsung terlalu lama dan membutuhkan penanganan serius.

Baca Juga:Warung Sembako Jadi Kedok Peredaran Miras, Polisi Sita 110 Botol Alkohol di Dramaga BogorDiduga Sakit, Pria di Cileungsi Bogor Ditemukan Meninggal Dunia di dalam Kamar

Keberadaan jaringan irigasi tersebut dinilai sangat vital karena menjadi sumber pengairan bagi lahan pertanian di wilayah Kecamatan Cipatat.

“Kebutuhan ini sangat mendesak. Kami meminta Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) dan Bupati segera mengalokasikan dana tersebut agar 98 hektare sawah ini bisa kembali berproduksi dan mendukung program ketahanan pangan nasional,” kata Wendi, Senin (15/6/2026).

Ia mengapresiasi respons cepat yang mulai ditunjukkan Pemerintah Kabupaten Bandung Barat bersama Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) dalam menindaklanjuti keluhan petani terkait kondisi jaringan irigasi tersebut.

“Langkah yang dilakukan pemerintah tentu kami apresiasi. Namun yang terpenting saat ini adalah memastikan perbaikan bisa segera direalisasikan agar petani tidak terus dirugikan akibat minimnya pasokan air,” ujarnya.

Menurut Wendi, perbaikan jaringan irigasi tidak boleh kembali tertunda karena menyangkut keberlangsungan sektor pertanian dan kesejahteraan masyarakat yang menggantungkan hidup dari hasil sawah.

“Jangan sampai persoalan ini terus berlarut. Kerusakan irigasi bukan hanya berdampak pada hasil pertanian, tetapi juga menyangkut kesejahteraan petani yang menggantungkan hidup dari sektor pertanian,” katanya.

Diketahui, kerusakan D.I Rajamandala telah berlangsung sekitar 14 tahun. Berbagai kerusakan ditemukan di sepanjang jaringan irigasi, mulai dari sedimentasi yang menumpuk, kebocoran saluran, pintu air yang tidak berfungsi, hingga bahu saluran yang jebol.

Baca Juga:Polisi Bongkar Jaringan Tembakau Sintetis di Cileungsi Bogor, 2 Bandar Muda DitangkapJembatan Situ Nanggerang Senilai Rp56 M Segera Dibangun, Pemkab Bogor: Target Rampung Akhir Tahun

Kondisi tersebut menyebabkan distribusi air ke lahan pertanian tidak berjalan maksimal sehingga mengancam produktivitas sawah di sejumlah wilayah Kecamatan Cipatat.

Mitra Cai Cikalapa Desa Rajamandala Kulon, Unang, mengatakan luas lahan sawah di wilayahnya mencapai sekitar 30 hektare. Namun, hanya separuhnya yang masih dapat ditanami padi akibat terbatasnya pasokan air.

0 Komentar