“Berbeda dengan Gunung Merapi atau Semeru, erupsi freatik di sini bisa terjadi nyaris tanpa tanda-tanda besar. Faktor pemicunya bisa berupa naiknya magma menuju permukaan atau peningkatan tekanan akibat aktivitas hidrotermal,” jelas Kristiyanto.
Sejak erupsi freatik terakhir pada tahun 2019, ia mengatakan Gunung Tangkuban Parahu relatif tenang. Namun disebutkan dari aktivitas-aktivitas vulkanik yang terekam, Badan Geologi sulit menetapkan ambang batas yang pasti untuk memicu erupsi freatik.
“Sejak 2019 sampai saat ini memang belum terjadi erupsi freatik lagi. Terakhir yang tercatat adalah tahun 2019, kemudian yang sebelumnya terjadi di 2013,” ujar Kristiyanto.
Baca Juga:Edukasi Pelajar Soal Jam Malam, Polresta Bandung Sambangi Sejumlah Tempat NongkrongSiap Ikuti SE Jabar, Disdik KBB Matangkan Kebijakan Jam Efektif Pembelajaran
“Kadang-kadang hanya dengan kenaikan sedikit saja di data kegempaan atau deformasi, erupsi freatik bisa terjadi. Tidak ada batasan ‘strip’ yang tegas untuk tipe gunung api seperti ini,” tambahnya.
Untuk memastikan penyebab peningkatan aktivitas kali ini, tim Badan Geologi juga melakukan pemantauan dan pengukuran multi-gas vulkanik dan membandingkan pola gas dengan data tahun-tahun sebelumnya.
“Uji gas kami lakukan terus-menerus. Namun, analisis gunung hidrotermal memang tidak mudah. Bisa saja tren data serupa dengan 2019, dan bisa pula berbeda,” imbuhnya.
Selain aktivitas kegempaan, Badan Geologi juga mendeteksi perubahan pada struktur tubuh gunung melalui metode deformasi seperti Electronic Distance Measurement (EDM) dan Global Navigation Satellite System (GNSS).
Hasilnya menunjukkan pola inflasi yang mengindikasikan adanya tekanan yang meningkat dari dalam gunung.
“Masih mengkaji kenaikan level ini dan ini juga masih kita koordinasikan. Sampai detik ini masih di level 1 atau normal,” kata Kristianto.
Hingga hari ini, Badan Geologi belum menaikkan status aktivitas Gunung Tangkubanparahu. Namun pengelola TWA Tangkubanparahu dan masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan, seperti tidak melakukan aktivitas atau tidak berlama-lama di zona bahaya.
Baca Juga:Dedi Mulyadi Bakal Salat Idul Adha di Desa Tonjong Cirebon! Siap Dongkrak Daya Saing, Disnaker Kota Banjar Latih 432 Warga
“Semua hasil pemantauan ini juga terus kita koordinasikan dengan pengelola kawasan wisata Tangkubanparahu agar aspek keselamatan pengunjung tetap terjaga.” tandasnya. (Wit)
