Jabar Ekspres – Keberlanjutan proyek pembangunan BDx Data Centers ditentukan hasil Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal). Hal itu diungkapkan Gubernur Dedi Mulyadi, Jumat (2/10).
Dedi menjelaskan, penentu untama perizinan proyek itu bukan di dirinya. Namun lebih memperhatikan hasil Amdal.
“Amdalnya merupakan kewenangan Dinas Lingkungan Kabupaten. Maka yang memberikan izin ya nanti tim Amdal dan konsultannya, Gubernur tidak punya kewenangan memberikan izin Amdal untuk BDX,” jelasnya.
Baca Juga:Annual& Sustainability Report Tahun Buku 2025 PGN Masuk 15 Besar Dunia, Raih Pengakuan di LACP dan ARC AwardsinDrive Edukasi Keselamatan Berkendara bagi Mahasiswa Baru di Bandung
Namun demikian Pemprov juga telah menggandeng akademisi untuk memberi masukan terkait keberlanjutan proyek itu. “Pemerintah Provinsi meminta salah satu akademisi dari UI untuk mewakili Pemerintah Provinsi memberikan pertimbangan objektif, “katanya.
Dedi juga menegaskan, keberlanjutan proyek di Jatiluhur Purwakarta itu bukan atas dasar pertimbangan kepentingan pribadi. “Bagi saya pribadi, kalau secara objektif Amdalnya lulus, ya saya enggak ada masalah, dilaksanakan. Kalau kata Amdalnya tidak boleh, ya saya tidak ada masalah juga dihentikan, kan bagi saya tidak untung atau rugi, ” cetusnya.
Namun Dedi menegaskan bahwa kepentingan warga sekitar patut untuk diprioritaskan. “Warga Purwakarta yang berkorban untuk kepentingan Jatiluhur harus mendapat akses air, ” katanya.
Dalam kesempatan itu juga, Dedi Mulyadi turut menjelaskan duduk perkara potret dirinya nampak ikut meresmikan proyek tersebut. Ia menegaskan bahwa saat itu tidak ada agenda peresmian.
Saat itu dirinya hendak mengecek situasi di lapangan. Pihaknya juga sempat menanyakan terkait perkembangan proses pengurusan perizinan terkait proyek.
“Saya mau mengecek ke lapangan bagaimana kondisinya, dan kemudian saya datang. Dan saya datang tidak membawa rombongan apa pun, saya datang sendiri waktu itu. Artinya datang bukan atas undangan, dan bukan juga saya mengundang, saya datang sendiri untuk mengecek lapangan, ” katanya.
Lalu di lokasi ternyata telah disiapkan tenda. Termasuk piranti seperti sesi peresmian. “Saya tidak mau. Duduk untuk makan sore pun saya tidak mau. Waktu itu ada anak yatim, saya nyamperin ke anak yatim, kemudian setelah itu diminta apalah (akgkat skop. Red), ya saya ikutin karena menghormati tuan rumah, ” cetusnya. (son)
