- Fisik Sangat Diuji
Bekerja di pertanian membutuhkan fisik yang kuat. Hari biasanya dimulai sejak pukul 5 pagi. Kita harus siap menghadapi cuaca ekstrem—kedinginan saat musim dingin, kepanasan di musim panas, hingga tetap bekerja di bawah hujan atau angin kencang. Pernah suatu waktu kami harus memperbaiki rumah kaca yang rusak karena hujan deras.
- Jam Kerja Panjang dan Tuntutan Tinggi
Ketika masa panen tiba, kita harus menyelesaikan panen hari itu juga. Tidak peduli waktu—kalau belum selesai, ya harus terus lanjut sampai tuntas. Contohnya, di pertanian bunga tempat saya bekerja, bunga harus dipanen dalam keadaan masih menguncup agar bisa mekar sempurna saat sampai di tempat penjualan. Kalau panennya telat dan bunganya keburu mekar, maka tidak bisa dijual. Itu sebabnya saya pernah pulang jam 10 malam selama dua minggu berturut-turut. Imbalannya memang gaji besar, tapi fisik benar-benar terkuras.
- Kehidupan Desa yang Monoton
Tinggal di desa dalam waktu lama bisa menimbulkan rasa bosan. Tidak banyak tempat hiburan, pusat perbelanjaan, atau kegiatan menarik seperti di kota. Pemandangan yang dilihat setiap hari ya seputar lahan pertanian, rumah-rumah tradisional, dan jalanan sepi. Bagi sebagian orang, hal ini bisa membuat jenuh.
Baca Juga:Nothing Phone 3A Pro, Ketika Estetika dan Performa Bertemu di Harga TerjangkauUpdate Harga 10 Koin Termahal di Indonesia Pada Mei 2025
Pekerjaan di sektor pertanian Jepang memang belum tentu cocok untuk semua orang. Namun, alangkah baiknya berusaha mengambil sisi positif dari pengalaman ini. Kami anggap sebagai proses pembentukan mental dan karakter—melatih hidup sederhana, menghargai kerja keras, dan bersyukur atas hal-hal kecil.
Jadi, jika kalian mempertimbangkan bekerja di pertanian Jepang, pikirkan baik-baik: apakah kalian siap secara fisik dan mental? Bila ya, maka pengalaman ini bisa menjadi bekal hidup yang sangat berharga.
