Pemerintah Kota Banjar dinilai lamban merespons krisis ini. Alih-alih memperkuat regulasi, mereka justru membiarkan buruh terjebak dalam lingkaran kemiskinan.
Di tengah hingar-bingar parade dan lomba seremonial, buruh Banjar menegaskan: May Day adalah hari perlawanan, bukan perayaan.
“Kami tak butuh hadiah sesaat. Kami butuh upah layak, kerja tetap, dan hidup bermartabat,” tegas Irwan. (CEP)
