JABAR EKSPRES – Presiden Amerika Serikat Donal Trump menetapkan kebijakan tarif resiprokal terhadap setiap negara, termasuk Indonesia.
Ketua Komis XI DPR RI Mukhamad Misbakhun meminta Bank Indonesia (BI) melakukan upaya serius dalam stabilitas nilai tukar rupiah atas dolar Amerika Serikat (AS) terkait kebijakan tersebut.
Ia juga memprediksi harga barang di AS akan semakin mahal, sementara pendapatan pekerja mereka masih tetap sehingga memicu kenaikan inflasi yang saat ini masih relative tinggi sejak pandemi Covid-19.
Baca Juga:Hadapi Tarif Impor Amerika, Indonesia Pilih Jalan DiplomasiSoal Kades Minta THR, Bupati Bogor: yang Salah Saya!
Terkait hal itu, ia memperkirakan Bank Sentral AS (The Fed) akan menurunkan tingkat suku bunga sebagai alat kontrol supaya inflasi bisa dikendalikan.
Data transaksi perdagangan Indonesia-AS pada tahun 2024, dengan nilai ekspor Indonesia ke AS mencapai 26,4 miliar dolar AS. Angka tersebut, setara dengan 9,9 persen dari total kinerja ekspor nasional Indonesia.
“Posisi surplus di pihak Indonesia,” ucapnya.
Misbakhun memandang kebijakan tarif ala Presiden Trum akan memukul industri produk ekspor di Indonesia. di mana, ekspor Indonesia ke AS didominasi industri padat tenaga kerja, seperti tekstil, garmen, alas kaki, minyak sawit (CPO) hingga peralatan elektronik.
