JABAR EKSPRES – Pelarangan sekolah dalam melaksanakan study tour, sesuai pernyataan alias arahan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menimbulkan banyak pendapat publik.
Pasalnya, selain reaksi orangtua siswa, pelaku industri pariwisata pun turut menyoroti larangan bagi sekolah untuk melaksanakan study tour tersebut.
Pelaku Industri Pariwisata sekaligus Ketua Asosiasi Pengusaha Perjalanan Wisata (ASITA) DPC Sumedang, Iyan Sofyan Hadi mengatakan, kegiatan study tour dinilai tak sama dengan piknik.
Baca Juga:55 Kepala Daerah Ikuti Larangan Megawati Hadiri Retret, Hasto: Kami Tunggu Keputusan DPPMeski Satu Partai dengan Bupati, Ketua DPRD Bogor: Tetap Jalankan Pengawasan
Hal itu berlandasan, karena Provinsi Jawa Barat memiliki beragam obyek dan aktivitas untuk kegiatan pembelajaran di luar ruang kelas.
“Kualitasnya pun tidak kalah bagus dibandingkan provinsi-provinsi lain. Para pemimpin daerah sebaiknya mendorong sekolah-sekolah untuk memperkenalkan siswa pada lingkungan di sekitar mereka,” terangnya.
“Itu berarti, pelayanan perjalanan wisata harus lebih bertanggung jawab dan menjaga kualitas layanan yang telah dijanjikan sesuai biaya yang dikeluarkan oleh konsumen,” ujarnya.
Tak hanya pelarangan study tour, Iyan juga menyoroti terkait pemangkasan anggaran instansi dan lembaga pemerintahan, yang baru-baru ini ramai jadi perbincangan publik.
