Ujung Cerita Fenomena ‘Gurun Sampah’ Pasar Induk Caringin

Ilustrasi: Suasana terkini Pasar Induk Caringin setelah sampah di angkut, Rabu (15/1). Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
Ilustrasi: Suasana terkini Pasar Induk Caringin setelah sampah di angkut, Rabu (15/1). Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Gurun sampah setinggi 4 meter kubik di Pasar Induk Caringin sempat jadi perhatian publik. Akhir Desember 2024 menjadi klimaks saat pemerintah mulai turun tangan dan memberi teguran kepada pihak pengelola pasar.

Status kepemilikan pasar yang dikelola pihak swasta itupun tak luput jadi sasaran. Bahkan pada awal Januari 2025, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung memberi ultimatum yang disertai desakan supaya ‘gurun sampah’ itu selesai dalam 14 hari kerja.

Berdasarkan pantauan Jabar Ekspres beberapa hari yang lalu, kondisi sudah membaik. Tempat pembuangan sementara yang baru beroperasi pertengahan tahun 2024 itu, kini tinggal menyisakan sampah mati yang sudah menyatu dengan tanah. Gunung masih tampak, tetapi bukan lagi gurun sampah. Hanya gurun tanah-tanah yang terbentuk dari sampah mati.

Baca Juga:PSKC Cimahi Optimis Tembus Liga 1, Manajemen Siapkan Strategi dan Amunisi BaruDPRD Ciamis Usulkan Penghapusan Anggaran Bansos Mulai Tahun 2026, Ini Kata Pj Bupati

Kepala Seksi (Kasi) Kebersihan Pasar Induk Caringin, Yudi Haryanto menyamakan penanganan masalah sampah yang terselesaikan itu, tak ubahnya ibarat cerita rakyat Sangkuriang.

“Alhamdulillah sampah yang tadinya tertumpuk di depan ini sudah beres. Kami pres dan angkut. Setelah ada perintah 14 hari kerja itu, kami berprogres. Hampir selama 24 jam, terus menerus memproses ‘gurun’ sampah itu,” ungkapnya kepada Jabar Ekspres di ruang kerjanya, belum lama ini.

Momen sangkuriang tidak dilakukan sejak awal, menurutnya, karena pengelola pasar masih menunggu teknologi pengolahan sampah masuk dan perizinan lahan milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat (Jabar). Namun sesuatu yang dinanti itu tidak kunjung datang. Sementara dalam waktu bersamaan penumpukan sampah terus terjadi.

Guna menjaga situasi kondusif dalam pasar, pihaknya memilih untuk memakai lahan yang semula jadi tempat parkir sebagai TPS sementara. Hal ini dipilih sebagai solusi lantaran TPS yang berada nyaris di tengah pasar, sudah tidak memungkinan untuk menyimpan sampah.

“Tumpukan sampah kemarin juga bukan seutuhnya dari pasar, itu juga ada sampah dari warga. Maka terjadi penumpukan kemarin. Input sama output tidak seimbang. Kami sehari bisa 8 rit dengan per hari 48 ton. Nah sementara kuota hanya tiga. Satu rit kami musnahkan sampah di dalam pasar, tersisa tiga sampai empat yang terakomodir hingga menumpuk,” cerita Yudi saat menerangkan asal muasal fenomena gurun sampah.

0 Komentar