“Malah keburu menumpuk. Sudah menumpuk begitu akhirnya mengundang, kita menumpuk karena situasi dan kondisi. Kami enggak bisa menghindar dari jalan cerita. Kami diultimatum dan disanksi. Kami enggak bisa menghindar. Namun kami percaya di depan ada solusi. Kalau pengelola hanya berharap untuk mempermudah dan mempercepat penggunaan lahan. Perizinan bisa kami urus sambil berjalan,” lanjutnya.
Masalah pun bukan sekadar dari perkara input dan output di dalam pengelolaan sampah pasar. Namun apabila ditarik lebih jauh, menurutnya, semua bermula dari kebakaran TPA Sarimukti. Lalu turun regulasi ketetapan soal buang sampah karena darurat.
“Namun karena sudah tidak darurat, harusnya sekarang berjalan seperti biasa. Normal lagi. Kalau kemarin surat yang sampai ke sini adalah Darurat Caringin. Masalah amdal dan lingkungan. Kalau dibiarkan dinilai mengundang masalah lain,” sesalnya.
Tekanan Dibalas Tekanan
Baca Juga:PSKC Cimahi Optimis Tembus Liga 1, Manajemen Siapkan Strategi dan Amunisi BaruDPRD Ciamis Usulkan Penghapusan Anggaran Bansos Mulai Tahun 2026, Ini Kata Pj Bupati
Seolah sambil bercanda, tekanan yang diberikan pemerintah terhadap pengelola pasar, tampak seperti situasi yang komikal. Lantaran tekanan itu bisa dijawab dengan tekanan (mesin press). Yudi mengamani hal tersebut dan tersenyum saat menyadari kenyataannya memang seperti demikian.
“Pengepressan ini kalau dilakukan bisa menjawab tonase sampah yang asalnya tiga truk menjadi satu truk. Itu perbandingannya. Secara volume tetap, tapi kita lihat sisi tonase. Sekarang yang tersisa 600 kubik. Sekarang sudah tidak ada tumpukan sampah di depan. Saya pastikan ini sudah selesai,” tuturnya.
Sementara itu, penggunaan mesin press di Pasar Induk Caringin bersifat sementara. Menurutnya bakal dipakai saat darurat saja. Yudi menegaskan, alat itu digunakan sampai akhir 14 hari kerja yang diperintahkan pemerintah kota.
“Kalau ditotal-total ini kami bayar Rp1 juta lebih untuk mengelola sampah dalam 1 truk. Biaya jadi meningkat, tapi mau tidak mau. Mudah-mudahan bisa stabil ke depannya,” harap Yudi.
“Saya optimis kalau masalah teknis. Namun kembali lagi masalah alat kami kan belum masuk. Kalau bisa cepat digunakan itu lahan. Mungkin bisa secepatnya setting. Alat pengolahan yang mengubah menjadi kompos. Sudah ada rekan dan mitra yang bisa dipercaya. Kami sampah organik 50 persen. Kami sendiri punya mesin pemilah dan cacah. Buat pengolahan kompos ada, tapi masih kecil,” imbuhnya.
