Masa Depan Suram Bagi Transisi Energi di Bumi Padjadjaran

Turbin angin di kawasan Lentera Bumi Nusantara (LBN), Desa Ciheras, Kabupaten Tasikmalaya. (Dok. LBN).
Turbin angin di kawasan Lentera Bumi Nusantara (LBN), Desa Ciheras, Kabupaten Tasikmalaya. (Dok. LBN).
0 Komentar

SIAPAPUN kepala daerah yang terpilih di Jawa Barat (Jabar), pada akhirnya tidak memunculkan harapan bagi transisi energi. Para kandidat gubernur belum menaruh perhatian yang besar terhadap transisi energi bersih. Padahal, bumi Padjadjaran mempunyai potensi besar dalam energi bersih.

Muhammad Nizar, Jabar Ekspres

Lihatlah apa yang telah dilakukan Lentera Bumi Nusantara (LBN) sejak 2012 lalu. Lembaga ini menjadi tempat penelitian dan pengembangan teknologi turbin angin. LBN yang berlokasi di Desa Ciheras, Kabupaten Tasikmalaya telah menjadi pionir dalam penelitian energi terbarukan di Indonesia. Salah satu implementasi nyata LBN adalah di Pulau Sumba, di mana mereka berhasil memasang 100 turbin angin kecil di tiga desa. Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa teknologi turbin angin skala kecil dapat memberikan manfaat signifikan bagi daerah-daerah yang selama ini tidak terjangkau oleh jaringan listrik.

LBN juga menjadi tempat bagi mahasiswa untuk belajar, meneliti dan mengembangkan teknologi turbin angin. “LBN dibentuk untuk melakukan riset teknologi angin dan pembelajaran mahasiswa. Jadi ini tempat persinggahan pemuda,” terang CEO LBN Muhammad Nasrul kepada Jabar Ekspres, pada Selasa (26/11).

Baca Juga:Cari 2 Korban Hilang Tertimbun Longsor di Sukabumi, Kantor SAR Bandung dan Jakarta DikerahkanSungai Cimande Sumedang Kian Dangkal dan Menyempit, Sejumlah Perusahaan Dituding Jadi Faktor Banjir

Di LBN, mahasiswa bukan hanya belajar secara teori melainkan juga membangun turbin angin, merakit generator dari gerak menjadi listrik, serta memahami sistem kontrol yang terlibat dalam teknologi ini. Nasrul mengakui, masih banyak yang belum menyadari urgensi transisi energi terutama di Jabar.

Koordinator Climate Ranger Ginanjar Ariyasuta juga sepakat. Dia mengatakan, potensi alam Jabar sangat besar untuk transisi energi. Sayangnya, dia melihat potensi itu belum tergarap dengan baik. Padahal, jika dikelola dengan melibatkan masyarakat lokal melalui BUMDes, ini bisa menjadi langkah strategis,” jelas Ginanjar.

Menurutnya, pendekatan ini bukan hanya mendukung transisi energi melainkan juga dapat mengurangi ketimpangan dan menciptakan lapangan kerja. Ginanjar menyoroti perlunya kesadaran pemerintah untuk menjadikan energi berbasis komunitas sebagai solusi utama, bukan sekadar alternatif.

“Dana desa yang besar sering kali tidak dimanfaatkan maksimal. Jika regulasinya diperjelas, energi berbasis komunitas bisa menjadi prioritas nyata dalam transisi energi Jawa Barat,” tuturnya.

0 Komentar