Masa Depan Suram Bagi Transisi Energi di Bumi Padjadjaran

Turbin angin di kawasan Lentera Bumi Nusantara (LBN), Desa Ciheras, Kabupaten Tasikmalaya. (Dok. LBN).
Turbin angin di kawasan Lentera Bumi Nusantara (LBN), Desa Ciheras, Kabupaten Tasikmalaya. (Dok. LBN).
0 Komentar

Arip Apandi (29), seorang warga Bandung, sepakat. Dia mengatakan krisis iklim sudah sangat serius dan sudah menjadi fakta yang tak terbantahkan. “Statusnya sudah menjadi bencana yang sedang terjadi sekarang juga,” ujar Arip, yang mengacu pada berbagai bukti perubahan iklim yang sudah terasa, seperti melelehnya es di Antartika dan peningkatan suhu ekstrem yang mengancam kehidupan.

Arip mendesak agar krisis iklim segera diatasi oleh seluruh lapisan masyarakat. “Ini bukan hanya kewajiban pemerintah, tetapi juga tanggung jawab masyarakat, baik orang tua maupun anak muda, serta sektor industri,” katanya.

Menurutnya, peran pemerintah penting dalam menanggapi krisis iklim mengingat mandat konstitusi untuk menjamin kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat. “Jahat banget kalau pemerintah enggak konsen soal krisis iklim. Karena ini sudah membahayakan kehidupan masyarakat, kesehatan, dan perekonomian,” ujar Arip.

Baca Juga:Cari 2 Korban Hilang Tertimbun Longsor di Sukabumi, Kantor SAR Bandung dan Jakarta DikerahkanSungai Cimande Sumedang Kian Dangkal dan Menyempit, Sejumlah Perusahaan Dituding Jadi Faktor Banjir

Arip mencontohkan curah hujan yang semakin deras akibat perubahan iklim. Dengan saluran air yang buruk serta sampah, dia yakin bencana banjir semakin parah. Belum lagi, polusi udara yang semakin buruk di kawasan perkotaan. “Macet, banjir, dan udara yang tidak segar lagi membuat kita semakin rentan terhadap penyakit,” tambahnya.

Menurutnya, pemimpin baru di Jawa Barat harus segera turun tangan dan mengeluarkan kebijakan yang lebih ramah lingkungan. Bahkan, ia berharap kebijakan tersebut bisa bersifat radikal untuk menanggulangi dampak krisis iklim sesuai dengan amanah Kesepakatan Paris dan rekomendasi dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC). “Pemerintah harus berada di garis depan dalam mengatasi krisis iklim yang sudah sangat membahayakan ini,” ujar Arip dengan tegas.

Ana (26), warga Bandung, berharap pemangku kebijakan harus mulai konsentrasi dan segera bertindak mengatasi masalah polusi udara dan dampak krisis iklim yang semakin nyata. Dia berharap, selain penanganan masalah polusi, kebijakan yang mengarah pada perlindungan lingkungan juga bisa menjadi solusi jangka panjang untuk menjaga kelestarian alam dan mengurangi dampak perubahan iklim.

Rhizoma Indonesia sendiri telah menyusun dokumen rekomendasi berdasarkan rangkaian diskusi kelompok terfokus (FGD) di Cirebon dan Bogor. Mereka adalah anak muda Jabar yang tergabung dalam Gerakan Pilah-Plih Jawa Barat ini, kompak membuat policy brief untuk para kandidat yang berkontestasi pada Pilkada Jabar lalu. Dokumen ini memotret permasalahan lingkungan di Jawa Barat secara menyeluruh dan menuntut sepuluh poin utama agar cagub dan cawagub terpilih berkomitmen terhadap isu lingkungan, khususnya krisis iklim dan transisi energi.

0 Komentar