JABAR EKSPRES – Beberapa waktu ke belakang, fenomena cuci darah yang dilakukan anak-anak menjadi perhatian publik. Namun perlu dicatat, terapi yang dilakukan para penderita gagal ginjal itu, ternyata bukan sekadar disebabkan terlalu sering mengonsumsi makanan penuh gula.
Staf Divisi Nefrologi Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, dr Ahmedz Widiasta, menuturkan, terdapat sejumlah hal yang mesti disorot para orangtua supaya anak mereka tidak terjangkit masalah ginjal tersebut.
“Dari kecil sudah dididik untuk melakukan hobi yang bergerak. Bukan hobi yang hanya jarinya yang bergerak. Yang bergeraknya badannya, lalu mulutnya, dan juga dia bisa berkelompok, bersosialisasi juga,” beber dokter ginjal anak RSHS itu.
Baca Juga:Maling Mobil di Klapanunggal Todongkan Senjata ApiBanyak Muatan Baru dalam UU Desa, Pemda KBB Gercep Susun Perbup Perangkat Desa
Ternyata, kata Ahmedz, sejak masa kanak-kanak pun sudah mulai harus mengontrol gula darah. Lalu yang kelima, minum air putih harus cukup. Selanjutnya adalah monitoring fungsi ginjal.
“Jadi fungsi ginjal yang terpantau melalui urin rutin dan melalui pemeriksaan darah. Urium, katinim, natrium, dan kalium. Nah yang kami inginkan disini, ingin seperti di negara maju sebetulnya. Ada pemeriksaan urin rutin setiap tahun untuk anak-anak dan itu gratis,” katanya.
