JABAR EKSPRES – Maha Production berhasil menghadirkan kurang lebih 450 peserta pada talk show pemilu damai, Sabtu 6 Januari 2024 di Bikasoga Ballroom, Bandung. Acara ini bertema Pemilu Damai di Era Post Trhuth, Post Demokrasi, dan Demokrasi generasi Apatis.
Dalam talk show tersebut, menghadirkan beberapa pembicara, yaitu Rosihan Fahmi, Rocky Gerung, dan Guru Gembul. Antusiasme tinggi diperlihatkan para peserta yang hadir, banyak dari anak muda yang terlibat pada acara tersebut, baik mahasiswa, pelajar, bahkan santri.
Ketua Pelaksana, Zaim Ukrowi mengatakan acara tersebut diadakan untuk membahas proses pemilu yang damai di era post-truth dan post-demokrasi, pserta tantangan kritis yang dihadapi oleh generasi yang apatis terhadap demokrasi.
Baca Juga:Saluran Drainase Desa Sariwangi KBB Tertutup Sampah, Dampak Banjir Kiriman ke Kota CimahiBPBD: 1.011 Bencana Alam Terjadi di Kota Bogor Sepanjang 2023
Talk show ekstensif ini berfungsi sebagai platform diskusi yang berfokus pada berbagai aspek pemilu damai dalam gerakan post-truth dan post-demokrasi, khususnya yang berkaitan dengan partisipasi dan peran generasi apatis
“Hadirnya banyak peserta pada kegiatan ini menjadi ukuran bahwa berhasilnya kita untuk mewadahi ruang diskusi bagi kaum muda yang inginlebih terbuka terhadap konteks pemilu,” kata Zaim saat dikonfirmasi, Sabtu (6/1).
Guru Gembul sebagai salah satu pembicara pada acara talkshow tersebut menyampaikan, politik pada momuntum kali ini banyak direspon atas dasar sentimen, dan mewajarkan jika ada masyarakat yang tidak begitu masuk untuk memahami narasi yang dibawa dari setiap calon.
“Realitas politik hari ini adalah dampak dari era post truth, dimana banyak orang yang memilih calon pemimpin didasarkan pada suka atau tidaknya mereka pada salah satu sosok, dan itu menjadi tantangan kita untuk melihat secara objektif dan menilainya,” kata Guru Gembul.
Guru Gembul juga menyampaikan, Tidak pernah ada yang tau lawan kita sebenaranya pada setiap gelaran pesta demokrasi di momentum politik hari ini, maka karena itu sudah seharusnya pemilu terlaksana dengan damai.
Hal lain diutarakan pembicara lain Rosihan Famhi atau yang akrab disapa Fahmi, menurutnya tema yang mengangkat narasi apatis harus bisa diterjemahkan dengan perspektif yang terbuka dan adil.
“Apatis bisa saja di artikan bentuk sikap karena ragu akan sosok yang hadir pada pentas pemilu, karena hari ini apatis kerap diasosiakan sebagai judge mental, seakan-akan mereka, anak muda khususnya yang tidak memiliki sikap politik dipertanyakan kesadarannya,” tegas Fahmi
