Rektor Uninus Sebut, Tugas Akhir Mahasiswa Berupa Skripsi Rentan Plagiasi

Rektor Universitas Islam Nusantara (Uninus) Bandung, Prof Dr Obsatar Sinaga menyambut baik regulasi baru mengenai tugas akhir mahasiswa.
Rektor Universitas Islam Nusantara (Uninus) Bandung, Prof Dr Obsatar Sinaga menyambut baik regulasi baru mengenai tugas akhir mahasiswa.
0 Komentar

“Jadi, pilihannya bisa legal memorandum kalau Fakultas Hukum, atau produk untuk Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) dan tekni, kemudian jurnal atau skripsi yang masih mau skripsi,” rincinya.

Apalagi, Prof Obi melanjutkan, tugas akhir mahasiswa merupakan ketentuan otoritas kampus yang sudah menjadi standar nasional perguruan tinggi. Prof Obi pun membantah, jika tugas akhir di luar skripsi bakal menurunkan mutu pendidikan. Hanya saja menurutnya, skripsi yang selama ini diterapkan, terlihat kaku, bertele-tele dan memakan waktu yang cukup lama.

“Tapi masih banyak dosen yang menginkan skripsi karena kalau bimbingan merasa lebih elite dan dihargai. Kemudian kalau bimbingan, mungkin mahasiswa terbiasa bawa oleh-oleh kepada dosen. Yang gitu-gitu masih jadi budaya di kampus yang enggak mudah dihapus,” ungkapnya.

Baca Juga:3 Kampus di Bandung Luluskan Mahasiswa Tanpa Skripsi, Ada Uninus dengan Jumlah 350 Mahasiswa Ditolak Ormas Anti Komunis, Patung Soekarno Dibangun Tertinggi di Indonesia

“Tapi budaya itu lama-lama akan terkikis, karena mahasiswa sendiri lebih memilih tugas akhir di luar skripsi lantaran lebih cepat, bimbingan enggak perlu 2 tahun atau 1 tahun. Waktu zaman saya dulu, bimbingan skripsi sampai 2 tahun atau 4 semester. Karena dosennya susah ditemui dengan berbagai alasan,” kenangnya.

Namun di sisi lain, Obi juga tidak menampik jika tugas akhir mahasiswa berupa skripsi masih diperlukan untuk saat ini. “Kasihan jika ada mahasiswa yang masih menginginkan skripsi kalau dihapus total. Sehingga opsinya jangan dihapus dulu, tapi dibikin opsi pilihan,” pungkasnya. (tur)

0 Komentar