JABAR EKSPRES – Harga beras di sejumlah pasar tradisional Kabupaten Bandung Barat mengalami kenaikan sejak 3 bulan terakhir. Tak sedikit dari pedagang dan konsumen berharap harga beras bisa kembali normal.
Diketahui, saat ini, harga beras di Kabupaten Bandung Barat untuk segala jenis naik Rp1.500-2.500 per kilogram. Hal itu diakibatkan oleh kurangnya pasokan dari produsen.
Dedeh mengatakan, sebelum harga beras mahal, dirinya setiap hari membeli beras sebanyak tiga kilogram. Namun sekarang dia hanya mampu membeli beras satu kilogram.
Baca Juga:Muncul Tawaran Negosiasi, Polemik Sengketa Tanah Pemkot Bogor dan Ahli Waris TB A Basuni Makin Panas!Sampah Terus Menumpuk, Bandung Siapkan 2 Hektare Lahan di Gedebage
Meski harga beras mahal, namun dia tetap membelinya karena untuk memenuhi kebutuhan makan anggota keluarganya.
“Mau ga mau harus beli buat makan keluarga. Paling yang dikurangi pembeliannya aja,” katanya.
Kekesalan serupa disampaikan seorang ibu rumah tangga asal Desa Sukatani, Kecamatan Ngamprah, Indah (28). Meski kesal karena harga beras naik, dia tetap membelinya karena untuk kebutuhan makan.
“Mahal atau murah kita tetep beli, ini kan kebutuhan pokok. Kesel mah ada, tapi mau gimana lagi,” kata Indah.
Ia menilai, kenaikan harga beras membuat pengeluarannya semakin bertambah. Dia berharap, harga beras bisa segera turun.
“Kalau saya beli beras yang biasa harganya Rp13.500. Itu kalau beli di pasar. Kalau di warung jadi Rp14.000 per kilogram. Mudah-mudahan harga beras kembali normal lagi,” tandasnya.
Sebelumnya, harga beras premium di Pasar Tradisional Tagog Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) menyentuh harga Rp14,5-15 ribu. Kenaikan harga beras sekitar Rp 2.500 per kilogram.
Baca Juga:Masalah Sampah Belum Teratasi, 135 TPS di Kota Bandung Masih OverloadAntisipasi Banjir dan Longsor, Pemdes Ciadeg Fokuskan Program Samisade untuk Pembangunan TPT dan Jalan
Sementara untuk harga beras paling rendah dengan kualitas medium mencapai Rp12.000-13.500 per kilogram.
