Masjid Agung Kota Bandung Dulu dan Kini

Masjid Agung Bandung Zaman Dulu di dalam buku Sudarsono Katam Album Bandoeng 1845-1910-an. (AKMAL FIRMANSYAH/JABAR EKSPRES)
Masjid Agung Bandung Zaman Dulu di dalam buku Sudarsono Katam Album Bandoeng 1845-1910-an. (AKMAL FIRMANSYAH/JABAR EKSPRES)
0 Komentar

Menurut Andita, ini tidak berjalan lama. Kubah rancangan Soekarno ini hanya bertahan selama 15 tahun akibat tertiup angin. meski sudah diperbaiki tetapi di tahun 1970 mengalami perubahan besar-besar terjadi kembali mulai perluasan lantai Masjid, ruang basement, tempat wudhu, lantai dasar sebagai tempat sholat utama dan kantor DKM di lantai atas. Di depan bagian depan Masjid juga dibuat menara baru berbentuk bulat seperti bawang serta atap kubah masjid seperti joglo.

Perubahan besar-besar Masjid Agung Bandung pada tahun 2001, “Perubahan yang dilakukan berupa perombakan total, akibat adanya rencana penataan ulang alun-alun Kota Bandung. Dalam  rncana penataan tersebut, Masjid Agung Bandung bagian dari satu kesatuan yang tak terpisahkan dari alun-alun sebagai bagian dari ruang terbuka umum,” beber Andita

Pembangunan serta renovasi hasil dari empat perancang kondag dari Bandung yaitu Ir. H. Keulman, Ir. H. Arie Atmadibrata, Ir. H. Nu’man dan Prof. Dr. Slamet Wirasonjaya. Proses pembangunan Masjid Agung Bandung ini dimulai dengan peletakkan batu pertama, dan memakan waktu sekitar 829 hari.

Baca Juga:Perlintasan Kereta Api di Cimindi Ditutup Tiga HariCipta Kerja Mengancam Kesenjangan Sosial

Seusai pembagunan itu kemudian diresmikanlah tanggal 4 Juni tahun 2003 oleh Gubernur Jawa Barat, H. R Nuriana. , “besama dengan selesainya proses pembangunan dan penataan ulang kawasan alun-alun dan Masjid Agung Bandung dinyatakan selesai  padatanggal 13 Januari 2004. Bersamaan dengan selesainya pembangunan dan penataan ini, Masjid Agung Bandung resmi berganti nama menjadi Masjid Raya Bandung, dan menyandang predikat sebagai masjid provinsi,” imbuh Andita. Hingga saat ini Masjid Agung menjadi tempat mengaji, bahkan ngabuburit warga Kota Banudng. (*)

0 Komentar