Masjid Agung Kota Bandung Dulu dan Kini

Masjid Agung Bandung Zaman Dulu di dalam buku Sudarsono Katam Album Bandoeng 1845-1910-an. (AKMAL FIRMANSYAH/JABAR EKSPRES)
Masjid Agung Bandung Zaman Dulu di dalam buku Sudarsono Katam Album Bandoeng 1845-1910-an. (AKMAL FIRMANSYAH/JABAR EKSPRES)
0 Komentar

Panorama Kota Bandung terlihat begitu indah di atas seperti memandang dengan mata burung. “Butuh servis dulu, karena selama Covid tidak tersentuh,”  kata pengurus Masjid Agung Raya Bandung.

Sementara bila kita melihat sejarah Masjid Agung Raya Bandung Jawabarat ternyata sudah ada sejak 1812, “bangunan berbentuk panggung tradisional yang sederhana, bertiang kayu, berdinding anyaman bambu, beratap rumbia, dan dilengkapi sebuah kolam besar untuk mengambil wudhu,” tutur Sudarsono Katam di Album Bandoeng En Omstreken.

Hal yang sama juga dituturkan oleh Andita Aprilina Nugraheni dalam sebuah artikel berjudul Sejarah Pembangunan dan Renovasi pada Masjid Agung Bandung, ia mengatakan kolam besar untuk mengambil air wudhu itu pernah juga difungsikan oleh pemadam kebarakan saat terjadi kebakaran pada tahun 1825.

Baca Juga:Perlintasan Kereta Api di Cimindi Ditutup Tiga HariCipta Kerja Mengancam Kesenjangan Sosial

Seusai terjadi kebakaran di alun-alun Bandung itu kemudian material bangunan masjid agung dirombak menggunakan kayu, “perombakan  ertama yang dilakukan pada Masjid Agung Bandung ini adalah mengganti dinding serta atapnya menjadi menggunakan bahan kayu,” tulis Andita Aprilina.

Pembangunan dan revitalisasi juga kemudian dilakukan kembali di tahun 1850-an, yang tadinya menggunakan kayu kini berjalan menggunakan tembok bata serta beratap genting. menurut Sudarsono, beberapa waktu kemudian tampilan masjid diubah menjadi beratap  bersusun tiga seperti Bale Nyuncung.

Di perubahan kedua itu dilakukan seiring dengan dibangunnya jalan Raya Pos (Groote Postweg) atua Asia Afrika dilakukan juga perluasan wilayah Masjid, bahkan kata Andita di tahun 1875 dilakukan kembali perkembangan dengan menambah pondasi serta pagar tembok yang mengeliling.

Tahun 1900, masih mengutip Sudarsono, Masjid Agung kemudian dilengkapi mihrab, pawestren, bedug, kentongan, kolam, namun belum ada menara.

Di tahun 1900-an ini, kata Andita, Masjid Agung dipenuhi dan diramaikan oleh kegiatan keagamaan seperti pengajian, perayaan Muludan, Rajaban, dan bahkan menjadi tempat diadakannya akad nikah.

“Tahun 1930 dilakukan pembangunan pendopo yang difungsikan sebagai teras masjid, serta penambahan dua buah menara pada bagian kiri dan kanan bangunan, dengan atap menara berbentuk sama seperti atap masjidnya, yaitu berbentuk nyungcung,” jelas Andita.

Saat tahun 1955 menjelang Konfrensi Asia-Afrika, Masjid Raya Bandung mengalami revitalisasi yang sekian kali, kali ini sang arsirtek bangsa yaitu Presiden Soekarno dengan mengubah bentuk kubahnya seperti ciri khas timur tengah dengan kubah berbentuk persegi empat, tidak hanya itu menara yang berada di bagian kiri dan kanan Masjid juga pawestren (teras) dibongkar.

0 Komentar