Mengungkap Sisi Gelap FIFA: Korupsi, Skandal, dan Pengkhianatan

JABAR EKSPRES – FIFA, organisasi sepak bola internasional terbesar di dunia, selalu dianggap sebagai lambang kemakmuran dan integritas olahraga.

Namun, apakah FIFA benar-benar merupakan organisasi yang jujur dan adil dalam menjalankan tugasnya? Ataukah ada sisi gelap FIFA yang selama ini tersembunyi dari pandangan publik?

Korupsi, skandal, dan pengkhianatan – inilah tiga kata yang mewakili sisi gelap FIFA.

Seiring berjalannya waktu, semakin banyak bukti yang mengungkapkan praktik-praktik kotor yang terjadi di balik layar organisasi sepak bola ini.

Korupsi menjadi masalah yang sangat mendasar bagi FIFA, terutama dalam hal pengadaan World Cup dan keputusan penting lainnya.

Melansir dari berbagai sumber berdasarkan investigasi yang dilakukan oleh otoritas internasional, praktik korupsi dilakukan dengan memanipulasi suara dalam pemilihan kota tuan rumah dan meminta suap dari pihak sponsor.

Yang terbaru skandal kasus korupsi dibuka di Amerika selatan

Kisah yang terkuak ini membawa kita ke dunia kelam di balik kulitnya yang indah dari industri olahraga internasional.

Kasus yang dibuka ini menyeret dua mantan eksekutif 21st Century Fox dan sebuah perusahaan pemasaran olahraga yang terlibat dalam skandal suap yang memojokkan sepak bola Amerika Selatan dengan memperoleh hak siar.

Namun, ini bukanlah pertama kalinya FIFA terlibat dalam kasus suap. Sebelumnya, FIFA telah tersandung kasus serupa mengenai pemilihan Rusia dan Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2018 dan 2022.

Baca Juga: Kanjuruhan Disebut FIFA Sebagai Gagalnya Indonesia Jadi Tuan Rumah Piala Dunia U-20

Dugaan tindakan korupsi pertama kali diarahkan ke mantan Presiden CONCACAF, Jack Warner.

Pria yang berasal dari Trinidad Tobago ini diduga telah menerima suap hingga lima juta dolar AS atau sekitar Rp82,2 miliar untuk memenangkan Rusia sebagai tuan rumah Piala Dunia 2018.

Tidak hanya itu, eks Presiden Konfederasi Sepak Bola Brasil, Ricardo Teixeira, dan mantan Presiden COMNEBOL, Nicolas Leoz, bersama-sama dengan rekan konspirator mereka, juga terlibat dalam kasus serupa.

Mereka diduga menerima suap dari Qatar untuk memastikan bahwa negara itu terpilih sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan