JABAR EKSPRES — Pemerintah Kota Bandung terus memperkuat upaya penanganan persoalan sampah dengan menambah fasilitas pengolahan sampah berbasis teknologi. Salah satu langkah yang dilakukan yakni memperbanyak penggunaan insinerator yang dinilai dapat membantu mengurangi volume sampah yang harus diangkut ke tempat pemrosesan akhir.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, saat ini Kota Bandung telah memiliki puluhan unit insinerator yang tersebar untuk mendukung proses pengolahan sampah. Insinerator tersebut memiliki kapasitas pengolahan sekitar 10 ton sampah per hari.
Farhan menyebut terdapat tambahan sebanyak 13 unit insinerator. Dengan penambahan tersebut, total insinerator yang dimiliki Kota Bandung kini mencapai sekitar 31 unit.
Baca Juga:Begini Kronologis Penyiksaan Handi di Sumedang, Korban Sempat Disekap di Sekre FKPPI Eduwisata Dikembangkan di Kebun Raya Bogor, Pengunjung Belajar soal Tumbuhan
Menurut Farhan, keberadaan insinerator tersebut menjadi salah satu bagian dari upaya pemerintah dalam mencari solusi pengelolaan sampah yang lebih efektif. Terlebih, pengolahan sampah tidak bisa hanya mengandalkan proses pengangkutan menuju tempat pembuangan atau pemrosesan akhir.
“Saat ini, insinerator yang sudah memenuhi standar SNI dan memiliki air pollution control juga sudah dilaksanakan. Kami berharap prosesnya berjalan lancar,” ujar Farhan, Rabu (12/8/2026).
Farhan menegaskan, aspek standar dan pengendalian pencemaran menjadi perhatian pemerintah dalam penggunaan teknologi pengolahan sampah. Menurutnya, fasilitas pengolahan sampah harus tetap memperhatikan aspek lingkungan, termasuk pengendalian emisi yang dihasilkan selama proses pengolahan.
Selain mengoptimalkan insinerator yang sudah tersedia, Pemkot Bandung kini juga tengah menjajaki penggunaan teknologi pengolahan sampah lainnya. Teknologi baru tersebut diarahkan untuk memiliki kapasitas kecil hingga menengah sehingga dapat ditempatkan lebih dekat dengan sumber timbulan sampah.
Konsep tersebut dinilai penting karena sampah tidak harus seluruhnya dikumpulkan dan dibawa dalam jarak jauh sebelum mendapatkan penanganan. Pengolahan yang dilakukan lebih dekat dengan sumber sampah diharapkan dapat membantu mengurangi beban sistem pengangkutan sekaligus mempercepat proses penanganan.
Farhan mengatakan, teknologi berkapasitas kecil hingga menengah tersebut nantinya berpeluang ditempatkan di tingkat kelurahan maupun kecamatan.
“Saya akan rapat dengan Menteri Riset dan Teknologi, Direktur Utama Pindad, serta Rektor ITB untuk membahas teknologi-teknologi baru berkapasitas kecil hingga menengah yang bisa ditempatkan di wilayah kelurahan dan kecamatan,” katanya.
