JABAR EKSPRES– Film Istimewa tak sekadar menawarkan tontonan drama keluarga, tetapi juga membawa pesan tentang bagaimana masyarakat memandang manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Pesan tersebut terasa dalam kegiatan cinema visit film Istimewa yang digelar di XXI Ciwalk, Bandung, Selasa (11/8/2026).
Agenda ini menjadi kesempatan bagi para pemain dan produser untuk bertemu langsung dengan penonton sekaligus merasakan respons mereka setelah menyaksikan kisah yang dihadirkan film tersebut.
Produser Istimewa Abdullah Mansuri, yang akrab disapa Pak Mansuri atau Ayah Mans, hadir bersama dua pemeran film, Yanni Melwani dan Prija Iska (Priijay).
Baca Juga:PT Len Industri Perkuat Integrasi Teknis Sistem Kendaraan Listrik Berbasis Pengalaman Rekayasa SprintBandung Marketing Week 2026 Digelar Lima Hari, Bahas Strategi Menang di Era AI
Pertemuan tersebut menjadi momen penting bagi Ayah Mans karena dapat melihat secara langsung bagaimana pesan yang dibawa film Istimewa diterima oleh penonton.
Menurutnya, film produksi Kairos Film tersebut tidak hanya ingin menghadirkan cerita mengenai anak-anak yang tinggal di Rumah Istimewa. Lebih dari itu, film ini berupaya menunjukkan bahwa anak-anak disabilitas merupakan manusia yang memiliki mimpi, keberanian, kasih sayang, humor, serta kemampuan untuk memberikan kebahagiaan kepada orang lain.
“Saya berharap lewat film Istimewa, teman-teman kita yang selama ini disebut disabilitas tidak lagi hanya dilihat dari kekurangannya. Mereka punya mimpi, mereka punya keberanian, mereka punya kasih sayang, dan mereka juga bisa memberikan kebahagiaan untuk orang lain. Jadi buat saya, mereka bukan hanya disabilitas, mereka adalah orang-orang yang istimewa,” ujar Abdullah Mansuri atau Ayah Mans.
Dorong Perubahan Cara Pandang terhadap Disabilitas
Ayah Mans juga berharap pesan yang disampaikan melalui film Istimewa dapat mendorong perubahan cara pandang masyarakat, termasuk dalam penggunaan bahasa ketika menyebut teman-teman disabilitas.
Menurutnya, penyebutan yang hanya menitikberatkan pada kekurangan seseorang berpotensi membuat masyarakat lupa bahwa di balik kondisi tersebut terdapat manusia dengan berbagai potensi dan hal positif yang dapat diberikan kepada lingkungan sekitarnya.
“Kalau boleh saya berharap, suatu hari bahkan KBBI bisa mengubah cara kita menyebut mereka. Karena ketika seseorang terus disebut dari kekurangannya, kita bisa lupa bahwa di balik itu ada manusia dengan begitu banyak hal yang bisa diberikan. Saya ingin kita mulai melihat mereka sebagai manusia yang istimewa,” lanjutnya.
