Hama Wereng Serang Pesawahan, Petani di Kecamatan Tanjungsari Terancam Gagal Panen

Hama Wereng Serang Pesawahan, Petani di Kecamatan Tanjungsari Terancam Gagal Panen
Hama Wereng Serang Pesawahan, Petani di Kecamatan Tanjungsari Terancam Gagal Panen
0 Komentar

Jabarekspres.com – Warga di Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor dihantui gagal panen. Pasalnya, sekitar dua hektar lebih lahan pesawahan diserang hama wereng.

Hama wereng adalah sejenis serangga kepik terbang yang memiliki kebiasaan untuk menghisap cairan tanaman.

Hama wereng dibedakan menjadi 3 jenis yakni wereng hijau, wereng coklat dan wereng punggung putih.

Baca Juga:Gempa Berkekuatan 4,3 SR di Kabupaten Garut Disebabkan oleh Aktivitas Sesar GarselaTerminal Bayangan di Citeureup Kabupaten Bogor Sebabkan Kemacetan

Perwakilan Balai Penyuluhan Pertanian Wilayah XII, Tera Kertana mengatakan, jenis hama wereng batang coklat (WBC).

”Biasanya wereng itu menyerang tanaman padi yang mendekati usia panen 85 hari sedangkan usia panen 105,” katanya kepada wartawan, Kamis (2/2)

Untuk itu, pihaknya bersama pengamat organisme pengganggu tanaman POPT, langsung melakukan pencegahan.

”Kami cegah penyebabaranya dengan cara eradikasi (pemusnahan) tanaman yang terserang hama,” akunya.

”Kami juga melakukan penyuluhan terhadap para petani dibantu kelompok tani,” imbuhnya.

Menurutnya, dari hasil pengamatan petugas POPT dari kecamatan Tanjungsari, khusus desa Tanjungsari, Tanjungrasa dan Sirnasari teridentifikasi ada serangan hama wereng WBC.

”Saat ini sedang dilakukan pengendalian (eradikasi) pemusnahan tanaman yang terserang dimana ditemukan spot segera di stop agar tidak menyebar,” ujarnya.

Baca Juga:Cara Dapat Saldo Dana Gratis Rp56.000Simak di Sini!! Cara Pasti Mendapatkan Saldo Dana Gratis dari Apliksi Penghasil Uang

Sementara itu, salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengatakan, saat ini persawahan yang terserang hama wereng sekitar  dua sampai tiga hektar.

”Untuk kerugian masih belum bisa ditaksir. Sekarang masih dalam penanganan balai penyuluhan pertanian, UPT Proteksi Cariu dan Petugas Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT),” terangnya.

Dirinya mempertanyakan fungsi kelompok tani yang pernah melakukan pelatihan. Sebab, ilmunya tidak terserap dan tidak digunakan saat dibutuhkan.

”Kemana para kelompok tani yang pernah melakukan pelatihan ilmunya tidak terserap,” terangnya.

Dia pun berharap para kelompok tani yang mendapatkan bantuan dari pemerintah, entah itu pelatihan maupun bantuan agar dapat membantu para petani mandiri.

”Kami mohon kepada pihak terkait tentang pertanian khususnya POPT pertanian Kepala Dinas Pertanian dan PPL untuk peduli dengan para petani,” bebernya.

Dia juga meminta agar sering diadakan pelatihan. ”Daripada studi banding ke daerah luar untuk tujuan latihan,” pungkasnya. (sfr)

0 Komentar