Satu Abad Observatorium Bosscha dan Sekilas Sejarah Astronomi di Indonesia 

Observatorium Bosscha. (Akmal Firmansyah/Jabarekpres)
Observatorium Bosscha. (Akmal Firmansyah/Jabarekpres)
0 Komentar

Di tahun 1920-an, sosok KAR Booscha muncul ia dikenal sebagai murah hati terhadap komunitas ilmiah di negeri koloni.

Kehadiran NISV atau Perhimpunan Astronomi Hindia Belanda tugas utamanya membangun sebuah observatorium dan memajukan kemajuan ilmu astronomi. di koloni.

Di tahun 1928, ada Teleskop Zeiss. Bagi Bambang, bahwa selesainya teleskop ini menandai dimulainya penelitian astronomi ‘modern’ di Indonesia.

Baca Juga:Bikin Geram, Dewan Bakal Evaluasi Pelayanan Pasien di RSUD Kota Bogor, Ini Penyebabnya!Kemeriahan Aksi Barongsai di Bogor

Dan sederhananya, Observatorium Bosscha seperti yang dikatakan oleh Premana ditinggalkan dalam beberapa tahap. Satu hal yang perlu diketahui, bagaimana ilmu pengetahuan juga disumbangkan oleh penjajah pada negeri jajahannya, tentu dengan maksud untuk meraup keuntungan Komoditas di negeri jajahannya.

Setelah ditinggalkan oleh Jepang, Observatorium Bosscha mengalami restorasi besar-besaran. Bacaan mengenai sejarah astronomi di Indonesia dalam jurnal Bambang menjadi satu refrensi yang kaya.

“Di awal saya sampaikan bahwa objektif saintifik utama pendirian Booscha adalah mengamati bintang, untuk membuat satu teori yang mencerita bagaimana bintang berubah fisiknya, kalau liat di langit ada, bahkan dengan mata saja, bintang yang cenderung putih, agak merah,agak kuning. Apa yang menyebabkan itu semua itu, mencerminkan apa salah satunya temperatur, kayak kompor gas, temperatur tinggi cenderung biru, terlalu panas agak merah,” ujar Premana memberikan penjelasan seusai wartawan bertanya.

Pengamatan bintang, itulah salah satu fokus Observatorium Bosscha.

“Bintang bermacam-macam warnanya, apakah mereka terlahir berbeda ataukah bagian perubahan fisiknya selama tahap hidupnya, umurnya bintang bisa berapa lama. Matahari kita adalah sebuah bintang, Kita yang butuh tau umur matahari, berapa umurnya 1000 tahun lagi atau milyar buat kita yang membutuhkan tenaga matahari harus tau dong,” terangnya

Seratus tahun Booscha, ilmu pengetahuan terus berkembang. Saat ini Booscha sedang mengembangkan software dan hardware system remote robotic teleskop.

“Sekarang salah satu yang kita kembangkan untuk software dan hardware adalah system remote robotic teleskop yang bisa dioperasikan secara jarak jauh secara robotic. Teropong bisa di letak di multi lokasi semua bisa operasikan. Observasi booscha untuk teleskop-teleskop,” tutur Premana dan terjawab pertanyaan sang wartawan.

0 Komentar